Waktu terus menemaniku dalam melangkah,di usia 3 tahun seorang adik laki-laki yang gagah lagi putih keluar dari rahim ibu,saat itu aku tak sendiri lagi,aku memiliki teman bermain. Di usia 5 tahun,ibu melahirkan lagi seorang bayi perempuan imut yang kukata hampir kembar dengan adik laki-lakiku.
Di usiaku yang 5 tahun orangtuaku tidak menyekolahkan aku di TK, tapi aku langsung mengikuti pembelajaran di SD. Padahal saat itu seharusnya usiaku belum cukup untuk duduk di bangku SD.
Aku akui, Allah telah memberi karunia-Nya kepadaku berupa otak yang mudah menyerap pelajaran. Sejak duduk di bangku kelas 1 SD hingga di bangku kelas 6, nilai raportku selalu bagus dengan peringkat pertama. Yah, itu adalah hal yang wajar, sebab ayah sangat menggemblengku dalam belajar.
Jika nilai tugasku tidak baik, maka mistar kayu yang panjang milik ayah akan menimpali tanganku.
Masa-masa kecilku amat kurindukan saat ini, kala ayah sangat peduli dan memanjakanku. Namun, di sisi lain aku adalah seorang anak perempuan yang sering mendapatkan pukulan dari ayah dan cubitan pedis dari ibu.
Masih teringat ketika aku diperintahkan ayah untuk berangkat mengaji, tapi lagi-lagi aku tak sampai ke tempat ngaji. Aku memilih singgah bermain dengan teman-teman sebayaku, ketika ayah mengetahui kelakuanku dari laporan guru ngajiku, ayah tidak segan-segan mengambil kayu pagar lalu memukuliku hingga kayu itu berserakan karena patah. Kala itu aku yang salah. Aku akui itu.
Namun, pernah suatu ketika ayah kembali memukulku untuk kesekian kalinya, kali ini dengan sapu ijuk, dan penyebabnya karena adik perempuanku hampir tertabrak kendaraan roda dua saat hendak menyeberang. Lalu, mengapa harus aku yang ditimpali? tanyaku dalam hati. Ternyata ayah mengira bahwa aku tidak menjaga adikku dengan baik. Padahal kala itu, aku tidak sedang bersamanya.
Aku dilahirkan dengan warna kulit yang cukup putih, bak orang bule kata orang-orang di sekitarku. Allah juga memberikanku tampang yang kata orang-orang cantik, bahkan beberapa di antara mereka mengatakan aku seperti cewek Korea. Hehe, makin PD aja. Rambutku pun berwarna merah kecokelatan. Yah, seperti itulah penilaian orang-orang mengenai bentuk fisikku.
Jadi, sejak Sekolah Dasar banyak anak-anak cowok yang mendekat. Pengalaman pertamaku mendengar seseorang mengungkapkan perasaannya di hadapanku adalah ketika aku duduk di bangku kelas 4 SD. Jujur, saat itu aku masih sangat asing dengan dunia cinta apalagi pacaran. Ah, aku tak tahu semacam itu.
Jadi jelas saja aku menolaknya. Setelah kejadian itu, ternyata masih banyak lagi cowo-cowo yang nggak tahu diri yang mengungkap perasaannya. Sudah tahu aku tidak mau berpacaran, masih saja memberanikan diri untuk mengungkap rasa.
Oh, abaikan dulu masalah cinta. Aku ingin bercerita seputar kepribadian. Yah, aku termasuk cewek yang sangat takut pada seorang ayah. Mungkin karena ayah mendidikku dengan begitu kerasnya. Aku bahkan tidak dibiarkan bermain di luar rumah bersama teman-temanku. Ini masa ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun, bimbingan ayah sangat menunjang prestasiku kala itu. Saat kelas 6 SD, ayah adalah guru matematika di kelasku, sehingga waktuku untuk belajar mata pelajaran ini sangatlah efisien. Jika pagi ayah mengajarku di sekolah, siang ayah pun mengajari saat pengayaan, jika malam tiba ayah kembali memintaku untuk memecahkan soal-soal yang diberinya. Oh, yaa Tuhan ...
Namun, hasil dari didikan tersebut sangat aku rasakan saat UAN tiba. Semua soal terasa sangat mudah kukerjakan. Dan alhasil, nilai UAN untuk mata pelajaran matematikaku adalah 9.9 alhamdulillah, syukurku atas semua karunia-Nya.
Kisahku masih berlanjut, kawan. Setelah lulus dari Sekolah Dasar, orang tuaku mendaftarkanku di sebuah SMP favorite di kampungku kala itu. Layaknya calon siswa baru di sekolah-sekolah yang lain, aku juga harus mengikuti proses orientasi. Huh, hal inilah yang aku tidak suka. Selama masa orientasi, aku tidak pernah senyum kepada para pembina yang menurutku mereka sok berkuasa. Ah, sudahlah ... itu hanya pemikiran anak labil kala itu.
Hari pertama aku mengenakan seragam putih-biru bukan main senangnya aku. Serasa lebih dewasa setingkat, hehe.
"Nama kamu Kirei, 'kan?" tanya seorang lelaki yang tetiba menghampiriku di kelas. Wajahnya tak asing, yah ... dia adalah senior yang sempat menjadi panitia orientasi kemarin.
"Iya, ada apa?" ketusku.
"Kamu mau jadi pacar aku?" brakk!! Pertanyaan itu lagi. Tak ada angin, tak ada hujan ... tanya nama kemudian nembak? nih orang mau jadiin aku bahan eksperimen kali yah.
"What? nggak salah ngomong tuh? nama kamu aja aku belum tahu. Tiba-tiba kamu nembak? Wah, cowok memang gitu, sukanya buat eksperimen. Tidak! Aku tidak mau" Jawabku berlalu meninggalkannya.
Hari terus berlanjut, dan lelaki menyebalkan itu masih selalu menghampiriku dan lagi-lagi mengungkapkan perasaannya. Tidakkah dia jenuh? Hingga pernah suatu hari, dia meyertakan seorang sahabatnya untuk menghampiriku di kelas.
"Sudahlah, aku katakan sejak pertama aku tidak mau. Jangan memaksaku, pergi atau kamu akan menjadi orang yang sangat aku benci" amarahku meledak di hadapannya, sedang sahabatnya yang berdiri di sampingnya membuka mulut, "Ok, tenanglah Jendz! Cinta ditolak, dukun bertindak"
Huuft, semakin membuatku kesal, perkataannya membuatku ingin tertawa.
Hingga tiba pada suatu hari, tepatnya hari Sabtu ... aku berjalan sendiri dari arah kantin. Sedang lelaki yang bernama Jendz itu alih-alih seperti bayanganku yang selalu mengikuti.
"Rei, tunggu!" Dia meraih pergelangan tanganku dengan kuatnya
"Tatap mataku, kumohon!" Entah mengapa, mataku refleks tertuju menatapnya, sedang tangannya tidak melepaskan pergelangan tanganku.
"Untuk yang kesekian kalinya, aku ingin meminta jawaban darimu. Maukah kamu menerima cintaku? Aku tidak sedang ingin bermain. Sungguh! Sejak pertama melihatmu saat orientasi dulu, aku tertarik padamu. Padahal sebelumnya aku belum pernah mengungkapkan perasaanku pada cewe mana pun. Melihatmu seperti ada kesejukan, aku tidak tahu mengapa harus wajahmu yang selalu hadir, aku yakin bahwa ini adalah cinta", dengan tatapan yang tak tergeser sedikit pun, aku tak sadar apa yang aku katakan waktu itu. Aku menerimanya? Oh, ini sungguh memalukan. Padahal aku telah memberi kesaksian di hadapan teman-temanku bahwa aku tidak akan menerimanya.
Untuk yang pertama kalinya, aku memiliki hubungan berstatus pacaran. Ini sungguh teka-teki bagiku. Mengapa aku tiba-tiba luluh?
***
Setelah berlalu 3 bulan hubunganku dengannya, ibu melahirkan seorang bayi laki-laki, tepatnya adikku yang ketiga. Namun, selepas itu ... ibu dan ayah disibukkan dengan pekerjaan mereka. Terlebih ibu yang barusaja terangkat menjadi seorang PNS. Mereka jarang di rumah, belajarku pun tidak diperhatikan lagi oleh ayah. Aku yang barusaja menginjak masa puberku bergaul dengan leluasa. Tak jarang aku menghabiskan waktu dengan teman-temanku, cowok maupun cewek. Asap rokok adalah pemandangan yang setiap harinya kunikmati bersama mereka. Tapi, aku tidak merokok yah. Hanya saja sebagian besar temanku yang tidak segan lagi menghisap rokoknya di hadapanku. Sabu-sabu sejenis distro bukanlah hal yang asing lagi bagiku, begitu pula dengan miras, jika teman-teman cowok barusaja berpesta miras, terkadang kami kumpul bersama hanya untuk memetik gitar dan menghabiskan waktu dengan tertawa. Atau sekedar balapan di jalan untuk menghilangkan penat. Pernah suatu ketika, kami sedang berkumpul seperti biasanya, memetik gitar sambil bernyanyi dengan lagu "Kehilangan" ciptaan Firman. Tetiba seorang teman cowok datang dengan menggenggam kondom, saat itu kali pertama aku tahu, bahwa mereka juga melakukan jual-beli kondom yang sumbernya mereka ambil dari ibu temanku yang seorang bidan.
**
Semakin berlalunya waktu, semakin dunia gelap menutupi hati. Kisah cinta anak remaja yang tiada lain sebuah cinta yang semu. Setelah mengungkap perasaan yang ke-7 kalinya, yang kemudian tanpa sadar aku mengiyakannya, aku menjalani hubungan dengan Jendz, tapi naifnya aku, aku juga menerima beberapa lelaki lain setelahnya meskipun aku berstatus sebagai kekasihnya. Ada banyak alasan yang membuatku seperti ini. Tapi, entah kenapa Jendz tidak pernah marah sama sekali padaku, padahal aku telah menduakannya berkali-kali. Kupikir dia akan mencari penggantiku tapi sungguh, aku tak pernah mendengar isu atau melihatnya dekat dengan cewek lain. Jujur saja, ada lima cowok yang aku terima selama menjalani hubungan dengan Jendz. Playgirl? ada yang berkata demikian. Aku tak peduli, aku hanya kasihan melihat mereka yang mengungkapkan perasaannya berkali-kali. Namun, mungkin karena aku adalah cinta pertamanya, sehingga Jendz sama sekali tidak peduli terhadap sikapku yang seolah mempermainkan hubungan kami. Jelas saja, saat itu di pikirku tak ada niat untuk serius, aku masih bocah labil yang baru saja menanggalkan seragam merah-putihnya.
Jendz adalah senior satu tingkat di atasku, sehingga tentu saja dia akan lebih dulu meninggalkan sekolah tempat aku, dia, dan teman-temanku mengekspresikan kepenatan. Jendz memilih untuk melanjutkan studi di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan yang letaknya jauh dari kampung. Tentu saja harus berpisah, dan saat itu aku cukup biasa dalam bersikap. Dia memang sempat berjanji untuk kembali suatu hari nanti menemuiku, tapi aku tak peduli dengan janjinya. Aku yang kala itu adalah cewek yang lebih akrab dengan pergaulan yang menghanyutkan, seolah tak takut akan kehilangan sebuah perhatian, sebab masih banyak perhatian lain yang diberikan padaku, pikirku kala itu.
**
Belum genap sebulan Jendz pergi, aku telah menjalin hubungan baru dengan seorang senior yang terlampau 6 tahun lebih tua dariku. Menurut penilaian orang-orang, dia adalah cowok yang keren, berkulit putih, postur tubuh yang menarik, dan wajah yang mirip Aliando, ini kata mereka loh. Banyak cewe yang ngefans ke dia, mungkin karena dia adalah seorang pemain sepak bola, atlet volly dan juga basket. Aku tak menerimanya begitu saja. Ada banyak proses yang membuat kami bisa bersama.
Hampir setahun setelah kepergian Jendz, ternyata dia benar-benar datang untuk menemuiku kembali, aku yang saat itu sedang mengendarai sepeda motor seketika dikagetkan oleh sepeda motor Jendz yang berhenti tepat di hadapanku.
"Aku ingin bicara sesuatu denganmu" ucap Jendz sembari mengambil kunci motor milikku.
"Ada apa? Kapan kamu tiba?" tanyaku pelan
"Rei, kamu cantik dengan kerudung yang menutupi rambut merahmu yang indah. Kamu lebih feminim dengan rok panjangmu ini dibanding rok mini dress yang biasa kamu kenakan dulu" Jendz memang cukup terkejut dengan penampilanku yang berubah. Sejak menginjakkan kaki di bangku kelas 3 SMP, ibu memaksaku untuk berjilbab, meskipun aku mengenakannya hanya ketika ke sekolah.
"Sudahlah Jendz, jangan menggodaku. Jujur saja aku tak suka dengan penampilan ini. Ini gerah dan mempersempit gerakku, terlebih jika aku sedang bertanding bola volly"
"Bagaimana pun penampilanmu, kamu tetap yang terbaik bagiku, Rei. Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu. Ada hubungan apa antara kamu dan Wawan?" Tanpa ragu sedikitpun, aku menjawab pertanyaan itu
"Sekarang aku pacarnya dia, kenapa? mau marah? Jendz, kamu ini kenapa sih? Ini bukan yang pertama kalinya aku selingkuhin kamu, kamu polos atau bodoh sih?" Saat itu aku memang belum berpikir untuk menjalani hubungan yang serius, yah wajar saja.
"Aku sayang kamu, Rei. Bagaimana pun cara kamu memperlakukan aku, aku nggak akan marah, aku nggak bisa marah sama orang yang aku sayang. Baiklah, aku pamit Rei. Kalau kamu butuh sesuatu, aku akan selalu ada buat kamu." Jendz berlalu dari pandangan mataku dengan kekecewaan yang sepertinya telah menebal di wajahnya. Aku mengenalnya sebagai lelaki yang setia, dia juga sangat penyayang. Tapi, aku selalu saja mencari cara agar dia bisa melupakanku. Bukan karena aku tak menyukainya, tapi karena hukum adat yang amat keras di daerahku.
Aku dan Jendz berasal dari latar belakang yang berbeda. Suku nenek moyangku sangat membenci suku Moronene, yang tidak lain adalah suku Jendz sendiri. Disamping itu, latar belakang ekonomi kami juga berbeda, aku hidup dalam rumah besar dan kebutuhan segalanya terpenuhi sebab penghasilan orang tuaku semakin membaik, sedangkan Jendz berasal dari keluarga yang sederhana, ayahnya sudah tak mampu lagi mencari nafkah karena sakit-sakitan, ibunya hanya seorang wanita yang mendapatkan penghasilan dari jerih payahnya berkebun.
Jendz, I miss you but i can't with you ...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar