Kamis, 02 Maret 2017

Tuhan, Apa Salahku?

Termangu dalam kesendirian, menatap diri yang penuh noda. Dalam remang kehidupan diri ini bertanya, Apakah aku hidup untuk ternoda?
Tak ada lagi kata yang mampu terucap dari bibir pahitku, namun rasanya tenggorokan tercekik ingin memanggil nama-Mu, Tuhan.
.
Jika masa hanyalah sebuah penyesalan, mengapa mesti dihadirkan? Aku hanya mampu mengeja banyaknya tanda tanya yang mengepungku. Kemalangan hidup apakah sebuah derita atau sebuah cerita?
Apakah aku salah, Tuhan?
.
Apa salahku?
.
Salahkah aku?

Tidakkah benar hidupku ini, Tuhan?

Noda berbercak hitam menyelimuti diri ini. Amat pekat, Tuhan.
Membuatku bagai ditelan oleh gulita.

      Cemburu ...

      Aku cemburu, Tuhan!
Aku cemburu pada mereka yang Kau anugerahkan sinar terang benderang, sedang aku berpadu dalam kelam. Aku cemburu pada mereka yang Kauberi perlindungan rapat bagai diletakkan dalam peti emas yang mengkilap. Sedang aku terbuang bak buih-buih di lautan lepas yang terhampar.

Aku cemburu pada mereka yang Kau karuniai air penuh berkah yang jatuh menetes dari sudut matanya bagai butir-butir permata. Tidak sepertiku, yang meneteskan darah penuh nanah karena luka akibat dosa-dosa yang menikam.
.
Tuhan ...

Secarik Surat Untuk-Mu

Bersama senja
Kutuliskan kata indah untuk-Mu...
Tuhan
Yang tak pernah membatasi kasih sayang-Mu
Kutanya pada diri ini
Mengapa kiranya kau masih bergelimang dosa
Sedang Penciptamu begitu Pemurah padamu
Titik hitam pekat semakin bertambah
Menutup jernihnya hati yang menjerit
Mengapa tak kau hentikan langkah wahai jiwa?
Tak takutkah kau jika malaikat-Nya datang menghampirimu...
Merenggut dengan kejam nyawa dalam tubuhmu
Kumohon Tuhan,
Pada-Mu yang tak pernah lelah mendengar tangis
Pada-Mu yang tak pernah jenuh menerima maaf
Lembutkan hati ini, luluhkan hati ini yang telah lama membeku
Lunakkan jiwa ini yang begitu keras menerima ketentuan-Mu
Bawa diri ini dalam dekap kasih-Mu dan genangan ampunan-Mu
Agar dapat merasa bahagia karena cinta-Mu

Tentangmu ...

Kamu adalah deretan kata yang sedang berusaha kurangkai menjadi sebuah kalimat indah ...
Bagai menuai beribu tanya dalam memori kecilku, adakah jawab kan kutemui ...?
Dalam dekapan rindu yang tak berperi, dan dalam saratnya penantian yang tak berujung
Kegagalan rasa tak mungkin kan kuteruskan, sebab cinta itu semakin menikam

Sanggupkah kaumenahan perihnya belatih kehidupan dalam bui cinta yang terbebaskan dari tusukan mawar berduri?

Kurasa inilah akhir penantian yang sempat kusangka tiada ujung ...
Melati tersenyum merekah dalam taman lingkup cintamu

Apakah Dikau?

::
Semburat langit jingga di ufuk barat meluapkan suasana di ujung pengharapan.

Tak lama, jingga itu kemudian berubah menjadi hitam begitu pekat, begitu suram.

  Dinding-dinding rumah menatap sinis. Langit-langit kecil tak lagi mau memandang. Sehingga aku memilih untuk menatap langit nyata.
Di sana nampak ribuan cahaya indah yang seakan mengedipkan mata ke arahku...
.
Hembusan angin begitu terasa,desiran pasir seperti membisik di gendang telinga dalam keheningan malam..
Ketukan hati seperti ingin menyapa hatinya
Mata bening kini semakin bening karena linangan mutiara bergelimang bagai butir-butir air hujan..
 
  Seolah bercerita tentang hadirmu..."

_Dalam kerinduan

Kepergianmu

Senja begitu nelangsa
Mengukir kasih yang gelora
Alammu amat jendala
Yang terkadang membuat merana
Padahal keindahan mulai tertata
Bagai indahnya sang singgasana
Namun semua menjadi tiada

Lenyap..
Hingga membuatku nanap
Terpaku dengan hasrat yang telah terserap

Namun,
Hembusan angin yang membawa kesejukan
Mengantarkanku pada melodi yang tak bergeming
Hingga kumenerka bahwa
Aroma kasihmu semakin terasa

_Ulfa ar rifa`i

Terpaan Badai

Andi Ulfa Wulandari
Dalam tirisan penanya :
    "TERPAAN DALAM BADAI"

Dalam kehidupan yang fana
Tak terdapat tanda dalam dada
Tak kutemukan jiwa yang tertata
Tak pula cerita yang berlandas fakta
Semua ibarat rekayasa
Seperti tipuan belaka
Yang meninggalkan satu tanda
Tanda suram, gelap tak berwarna
Tak pula secerca harap tertinggal di sana
Berharap setitik cela
Namun,
Tak seberkas cahaya yang tiba
Hanya ada badai yang kian melanda
Dalam sunyi senyap keadaan dunia
Meski terpaannya mengikis luka
Dan menitikkan air mata
Hingga akhirnya menampung duka
Tapi, tak ada kata bermuram durja

Kupandangi jagat raya
Ternyata ibaratkan fatamorgana
Sehingga timbul banyak tanya
Ada apa gerangan dengan pandangan mata?
Apakah semua memang tak nyata?
Ataukah jiwa ini yang mati rasa...
Tapi, tak jua timbul asa

Waktu akan berkuasa
Manghentikan...Membisukan...dan membungkamkan manusia
Hingga keadaan tersapu rata
Tanpa merana dan tanpa tawa

_Toari Kolaka

Menanti hadirmu

Dalam ruang kecil yang hanya terbias secerca cahaya itu, dia masih bersandar dengan tangisnya.
Terlihat luka yang begitu perih dari rona wajahnya dan bias matanya yang berlinangan air.
Aku menatapnya dengan rasa iba yang membalut disertai penasaranku terhadap cintanya yang begitu membeku pada lelaki yang tak jarang membuat dadanya sesak, entah karena rindunya atau karena perilakunya yang menyakitkan.

Tapi, aku mengejanya sebagai wanita yang sabar.
Sakit hatinya tak membuatnya berhenti untuk tetap memberikan cinta dan perhatiannya pada lelaki itu.

Oh, Tuhan...
Seajaib inikah titipan rasamu ini?
Hingga cinta itu mampu mengalahkan segalanya?

Suara itu ...
Tidak Tuhan, telingaku tak sanggup mendengar tangisnya,
namun wanita tegar itu tak bergeming dalam sakitnya,
tangannya yang bergetar meraih pena dan buku biru kesayangannya,
dia mulai mencoret di atas lembaran-lembaran putih yang basah karena tetesan air dari sudut matanya.

"... Andai kau tahu rasa ini, rasa ini telah hampir lebur karena sakit. Namun cinta membuatku kuat, namun komitmen membuatku bertahan. Andai kau tahu rasa ini, rasanya kau menyayat tubuhku dengan belati tajammu. Andai kau tahu rasa ini, betapa aku ingin kau tahu. Betapa aku ingin kau membelaiku dengan lembut, betapa aku ingin kau mencintaiku dengan cinta yang tak pernah datang hanya sesaat, betapa aku ingin kau menuai setiap kata janji yang kau umbar di taman hatiku kala itu.
Masihkah kau ingat? Kala jemarimu yang hangat menggenggam erat jemariku?
kala mata cokelatmu menatapku dalam? kala mulut manismu mengungkap kata yang tetiba menjadikanku bungkam?

Dengarkanlah bisikan sendu dari hatiku ...
Cintai aku dengan tulusmu, obati luka yang tersayat karena tuturmu kala kau marah itu, sebab hatiku telah lelah...sangat lelah, namun impian bersamamu membuatku bertahan ..."

   Tersandung, aku benar-benar tersandung. Aku tenggelam dalam haru.
Betapa tidak, sedang goresan pena wanita itu membuatku tak mampu berkata.

Masih Tentang Rindu

::
semilir angin rindu lagi-lagi datang menghampiri setelah kurebahkan badan di atas pembaringan yang tak pernah jenuh menerima hadirku.

Mata sembab yang kian lelah ini tak mampu menyatu dengan pikiran. Benar-benar tak mampu.
Kusempatkan pandang untuk melirik sejenak pada arloji di atas tumpukan buku-buku yang kusam itu.
...Aku begitu keliru, pikirku waktu tak akan berjalan secepat ini. Namun nyatanya
ia menunjukkan pukul 02.30 dini hari.
.
.
"Aku tidur duluan "

"Iya, kamu jangan begadang. Besok pagi kamu berangkat kerja kan?"
_ Tak ada lagi alunan kata nan indah seperti dulu. Sapaan hangatmu pun telah terkubur dalam pusara asmara.

Percakapan 2 jam lalu kubuka dan kubaca kembali. Terus kubaca berulang-ulang hingga ke akar-akar resapannya.
Sedari tadi aku belum bisa menerka tentang gelisah ini. Seakan ada sehelai rindu yang membius.

Namun, sedari tadi pula aku membaca sikapmu yang berbeda.
Selaksa bahagia yang sempat kita rasakan beberapa bulan yang lalu, kini menjadi segenggam perih yang tak tahu kapan akan menjelma  menjadi selaksa bahagia lagi seperti yang sempat terekam kala bahumu menjadi tempat sandaran terindah bagiku.

:

Ohh, apakah karena itu?
Apa benar karena hal itu?

Ya, Sepertinya kali ini aku tak salah.
Seonggok perubahan yang hampir menyekikku itu sepertinya karena aku jauh..
sepertinya karena tekanan rindu yang kau dan aku tak mampu mencegahnya. Dan sepertinya karena rasa takut yang kian detik kian menusuk.

Aku ada,
Aku tak pernah pergi, cintaku pun begitu.
Aku maafkan segala lelahmu hari ini.
.
.
Dan biarkan kita ....
Kau dan Aku memupuk rasa untuk kita buraikan saat waktunya tiba

_AAA
@Ulfa ar rifa'i

Pada-Mu, Cinta

:: TUHAN ::

Kembang tanjung yang harum
Jatuh ...
Telah jatuh di pangkuanku
Kutusukkan dan kurangkaikan
Untuk menghiasi dan mengharumi ruang hidupku

Angin sejuk
Tiuplah ...
Taburlah ...
Agar semerbak mewangi
Agar kesejukan tumbuh di relung hati
Karena aku telah lama menanti

Tuhan,
Kembang itu adalah hidayah-Mu
Hidayah yang kini menghampiriku
Memberi selaksa ketenangan dalam jiwaku
Membuka jalan bagi pikiranku
Agar dapat sampai pada tujuanku
Agar senantiasa merasa damai di sisi-Mu

Inilah rasa yang kian berpadu
Berpadu dengan indahnya kasih-Mu

@Ulfa Ar Rifa'i
_Toari Kolaka

The power of love

~~
    Sapaan lembut itu kembali meremukkan batinku yang mulai mencoba untuk melepaskan jeratan cinta yang selama ini membelenggu.
Di saat hatiku benar-benar telah yakin akan kehilanganmu,
Wahai Makhluk Tuhan yang telah menarik hatiku akan keindahan cintamu.

Mengapa kau selalu kembali di saat aku mencoba ingin pergi dari dunia cintamu?
Sekali kau menyapaku, mungkin aku tak akan menoleh. Namun lebih dari itu, aku pasti akan menoleh ke arah suara yang kudengar. Akan tetapi, saat kupastikan bahwa suara itu adalah milikmu, seketika itu pula akan aku alihkan pandang darimu.
Agar tak berlinang mata ini saat menatap matamu.

Meskipun begitu, hati hati dan pikirku tak pernah henti mengajukan tanya,
"
"Masih adakah cinta dan kepedulian disana?"
Mungkin pertanyaan itu begitu konyol, tapi hatiku tak bisa berhenti untuk bertanya.

Bagaimana mungkin aku bisa mengukur seberapa besar tingkat kepedulianku padamu?
Sedang Menara Eiffel pun  tak seberapa jika dibuat suatu perbandingan, bahkan kalkulator kalkulator pun tak mampu menghitung jumlah kasih sayang itu.
Tapi, mengapa setitik kepedulian pun tak terbesit dalam hatimu?

~ Apakah aku salah menaruh rasa padanya, Tuhan?
Apakah Kau menerima maaf dariku, Tuhan?
Aku yang selalu saja memikirkan sebuah nama sesosok pria yang biasa-biasa saja namun membalut jiwa yang luar biasa seperti ini?

::
Untukmu Wahai Makhluk Tuhan yang cintanya tak nampak, bagaimana mungkin kau mampu mengikat hatiku sekuat ini, sedang dirimu baru saja mendapat jejakku?

Kekuatan apa yang kau kerahkan, sehingga kau mampu memecahkan hatiku?
Sungguh, aku takjub dibuatmu!
Padahal kau sama sekali tak terlihat seperti malaikat. Tapi mengapa hadirmu begitu penuh kehalusan?

Derap langkahmu kian mendekat.
Hembusan nafasmu kian terasa. Suaramu kian berdengung di telingaku.
Namun, hatimu terasa jauh.
Mengapa aku mesti takut kau pergi meninggalkanku bersama benih-benih cintamu?
Sedang Tuhanku tak pernah meninggalkanku

@Ulfa Ar Rifa'i

Tirisan Pena

#Tirisan_pena

Senada dengan melodi mimpi yang indah.
Ombak pun tak akan menampakkan amukannya.
Hanya menyapamu dengan lembut, lalu melambai pergi bersama buih yang terhampar

Kelabu yang membisu bahkan kian bisu dan membungkam.
Tak tahukah kamu Wahai Bugenvil? bahwa taman itu telah hampir musnah tertelan waktu.
Meski terlihat mendung menaunginya. Namun gemuruh rasa menerkam secara perlahan, bak belati yang menyayat indra yang peka.

Pekikan jiwa dan nalar tajam dunia mengikis angan dalam semenanjung harapan.
Mengharap rangkulan tangan Sang Penguasa
Untuk menopang jiwa yang lemah
Sejatinya,
Tak ada pelangi tanpa hujan. Akibat pun hadir karena sebab.
Maka resapilah karunia-Nya

Cinta penuh tantangan

~~
   Gemuruh rasa belum sempat kubendung. Begitu rumit untuk kutikam gelisah ini. Serangkaian peristiwa membuat kita terpisah dan meninggalkan sesak di hati.

Lautan menjadi saksi bisu atas tangisku yang pecah saat meninggalkan kota itu. Kota metropolitan yang kau dan aku selalu bersama menyusurinya.
.
.
Segala rencana telah tersusun rapi dalam diary kita. Bahkan langkah demi langkah telah kita coba untuk lalui bersama.
Untaian janji yang kau ucap menyelinap masuk di telingaku, merambat hingga saraf-saraf otakku, yang  membuatku  yakin dan tak pernah luput untuk mengenangnya.

Namun, segala keindahan yang sempat kita tuai harus berbalas dengan pedih yang menikam.

"Kamu terlalu bodoh. Perasaan telah membuatmu buta. Apa kamu pikir menikah segampang itu? apa kata orang-orang kampung nanti jika kamu menikah di usia muda dan kuliahmu pun belum usai. Kamu pikir lelaki seperti dia yang kuliahnya juga belum usai mampu menghidupi kamu?"
_ Sentakan ibu menggelegar bagai petir di telingaku.

"Aku telah yakin dengan pilihanku, Bu. Dia bukan lelaki yang seperti ibu pikirkan. Saat ini pun dia sedang berusaha bekerja agar bisa mengumpulkan uang untuk kuliahku nanti".

"Kamu terlalu mudah untuk percaya. Kamu saja belum memiliki pekerjaan tetap. Laki-laki itu akan menginjak-injakmu dan mencari wanita lain ketika dia mulai bosan. Yah terserah kamu. Yang mau menjalani kamu. Tapi ingat! Jangan pernah datang dan meminta tolong pada kami".
.
.
Perkataan ibu kian menusuk, hingga aku tak mampu menyembunyikan tangis yang seketika itu berderai di hadapan ibu.

:: Telah lama aku jauh darimu, jauh dari menatap mata coklatmu yang selalu membuatku ingin mengukir senyum.
Betapa hati dipenuhi sesak akan rindu.
Rindu ketika kau menjadi pendengar setiaku kala aku sedang membaca atau bercerita tentang hidup ini, kau begitu menikmatinya. Hingga serasa aku sedang menyiarkan siaran lagu di studio cinta favoritmu.
.
.
Apa aku dan kau salah ketika memilih untuk memadu kasih di singgasana suci?

Hampa

~Coretan Hampa

Telah kuhadirkan segala kenangan
Telah kuhimpunkan segala asa
Disertai harap pada Tuhan
Agar memberi penerang dalam kelam

Kehampaan,
Ah, begitu menggetarkan dada
Pun tak tahu,
Apakah hembusan nafas `kan tetap terasa di penghujung malam?
Ataukah hembusan itu `kan terhenti, saat hati dan laku tak berperi?
Coretan hampa,
Untuk mengungkap perihnya luka,
Sebab tak mampu tersirat

_AAA#FasyahUlfaArRifa'i

Untukmu, Ayah

Tirisan pena Andi Ulfa Wulandari
~~UNTUKMU~~

Mengingat dirimu ...
Ayah,
Berkobar semangat dalam diri
Untuk meraih mimpi
Dan menemukan jati diri
.
Kasihmu mengiris sepi
Pengorbananmu tak terganti
Wajahmu yang berwibawa masih terpatri
Seakan impian kian menanti
Ayah,
Impianku tak setinggi pengorbananmu
Usahaku tak sebesar kerja kerasmu
Pendirianku tak sekokoh hatimu
Dan, pikirku tak sejernih nalarmu
.
Oh, Ayah ...
Betapa sering kugores kecewa di wajahmu
Betapa aku sering membuatmu murka
Betapa aku sering menampakkan putus asa
Bahkan aku sering bertindak tak mengaca
.
Seharusnya aku berkaca ...
Berkaca pada setiap peristiwa
Dan belajar dari kesalahan dahulu kala ...
Kala hati belum tertata
Serta logika belum mampu membaca ...
Membaca kehidupan yang bertanda fana

Kini,
Aku tak tahu lagi
Kini,
Aku merasa sepi
Saat Ayah tersakiti ... Hidup pun sulit kujajaki

~AUW~

Be Patient, please

~
Denyut nadi semakin melambat, detak jantung hampir tak bernada, hembusan nafas tak sesegar hari-hari kemarin.
.
Perasaan seakan bergetar, bagai getaran gempa tektonik. Kesabaran semakin sulit 'tuk dipertahankan. Amarah menggemuruh, bagai suara petir yang menyambar.
Namun, logika berusaha menghentikan.
Nalar pun mencoba 'tuk memborgol. Meski naluri menjerit kesakitan.
.
Inilah bagian dari dampak peluapan kezaliman. Mengalir begitu cepatnya, membuat ricuh suasana, dan menghancurkan ketenangan. Bagai luapan lumpur lapindo.

Ketajaman sorotan mata cokelat yang nanap, dari seseorang yang tersakiti kepada seseorang yang menyakiti, semakin menusuk.
Genggaman tangan semakin erat.
Dada yang berapi semakin membara.
Meskipun hasrat ingin menerkam. Namun, pikiran jernih masih dapat menetralisir.
.
Oh, tidak!

"Jangan biarkan nafsu menggerogoti iman di dadamu. Kumohon, jangan beranjak dari kesabaranmu!" bisik hati dengan lembutnya.

Ada Apa Dibalik Kidung

Ada Apa di balik Kidung?

Terista telah merajai hari
Setelah tawa selincam pergi
Oh, muslihat terindah bumi
Kau merajai namun tak berperi
Jendala kian menyebar tanpa henti
Harus kuapakan asa yang telah mati?
Sedang kasih pun enggan bersemi
Hanya ada kidung yang berapi
.
Tidakkah kau dengar rintihan hati ini?
Hati yang sedari dulu tak kaupeduli
Hanya angkara yang menemani sepi
Hingga takdir mengakhiri
Penantian di ujung serambi
Sungguh, niat suci kian terpatri
Adakah kasih 'kan kutemui?

Negeriku Dirundung Mendung

NEGERIKU DIRUNDUNG MENDUNG
Created by: Pak Najmun
(dipentaskan oleh Andi Ulfa Wulandari)

Mendung kini menutupi negeriku yang dulu anggun
Negeri yang dahulu kesejukan berhembus dari ujung timur dan barat
Negeri yang harum semerbaknya membumbung ke angkasa
Meski dibangun di atas genangan darah dan air mata
Tengoklah kawan!
Mendung itu kian meremuk raut negeri ini yang dulu anggun.
Menusuk, menghujam jantungnya dengan belati kemunafikan
Tikus-tikus tak ketinggalan menggerogoti tubuhnya yang letih tanpa ampun
Hingga langkah kakinya kian sendu, bahkan nyaris tersungkur
Tidakkah kaudengar kawan?
Teriakan rumpun bambu yang memekik ...
Mengingatkan kita tentang moyangnya yang dahulu dijadikan senjata?
Ataukah telinga ini telah tertutupi dengan bualan para pendusta yang menyebut dirinya pemimpin?
Pendusta yang tega menindas, merampok, dan menyumpal mulut-mulut rakyat dengan kehidupan yang pelik
.
Tidakkah kaudengar rintihan negeri ini, kawan?
Yang meringis lantaran tubuhnya tercabik oleh putra-putrinya sendiri
Korupsi, suap menyuap, telah menjadi suguhan sehari-hari
Lupakah engkau, kawan?
Akan teguran Sang Maha Pencipta
Yang dulu meluluhlantakkan semenanjung negeri ini.
Kemana nuranimu kawan?
Kemana pekikan takbir?
"Allahu Akbar ...! Allahu Akbar ...! Allahu Akbar ...!"
Yang pernah membakar semangat
Membungkam segala kemungkaran
.
Renungkanlah sejenak, kawan!
Negeri kita kini dirundung mendung
Tersayat beribu badai
Padahal dahulu, negeri ini dibangun di atas darah dan air mata
Ayo, bangunlah kawan!
Sebab di tangan kitalah cahaya yang akan menyibak mendung itu

~~poetry for my country

When you hurt

~
Angin malam kian menghantam, deras hujan kini semakin terdengar. Dari bilik jendela, wanita itu terlihat kaku, seakan dia meredam pilu.
Senyum yang sempat terukir di wajahnya kini tak terlihat lagi.
Tak mampu aku menerka ada apa di balik kemurungannya.
Namun, seakan cinta kembali menjadi lambang kesedihan itu.
.
Cinta?
Ada apa dengan cinta? Teramat dalam luka yang digoresnya. Namun, tiada ada kutemui benci di wajahnya.
.
Dia masih terpaku, diam seribu bahasa ... Mungkinkah aku mengembalikan ceria itu di wajahnya?
~~
"Mengapa tak kausadari kasih sayangku padamu?" kini terucap kalimat dari bibirnya yang basah karena hujan yang jatuh dari sudut matanya.
Aku baru mengerti, bahwa dia sedang kecewa pada cintanya, namun cinta itu lebih besar dari rasa sakitnya

#fasyah

Sajak Rinduku

SAJAK RINDUKU~
Goresan  pena Andi Ulfa Wulandari

Dalam jeruji iman ...
Mengetuk pada pintu lamunan
Berharap tak lagi dalam bui khayalan
Meski terekam banyak rintangan
Namun, yakin akan ada kebahagiaan
Bahkan di saat yang mencengangkan
.
Selama hati berada di tangan Tuhan
Selama langkah tetap berjalan
Selama mimpi tak sekedar impian
Semua akan berubah kenyataan
Seperti apa yang dinantikan
Sebab yang sejati tak mungkin tergantikan
.
Inilah yang mampu kutuliskan
Sehingga rasa tak hanya dirasakan
Dan masa tak hanya menjadi kenangan

1402'17
#Fasyah

Dimana Kau Titip Rindu

Dimana kautitip rindu?

Apakah pada lembar lembar dedaunan kering kautitipkan rindu itu?
Ataukah kautitip pada rinai hujan yang menetes?

Dimana kautitipkan rindu?
Apakah pada tangkai mawar yang berduri?
Ataukah pada desir pasir yang menghampar?

Dimana kautitipkan rindu ...?
Apakah pada malam yang kelam?
Atau ... pada angin yang berhembus?

Dimana kautitipkan rindu?
Apakah pada sujud sujud di penghujung gulita ...?
Dimana kautitipkan rindu ...?
Mengapa tak kutemukan rindu itu ...?

~AUW~

Sang Belati

Sang Belati

Sejauh kita melangkah
Selalu beriringan dalam arah
Kuberi kau kepercayaan
Kuberi kau ketenangan
Selagi kumampu

Namun,
Kau yang kuharap, kini ...
Kukenal sebagai penggarap
Kau menggarap harapanku
Kau menghapus kepercayaanku

Kupikir ... kau yang akan membelaku
Saat lawan di depan mata
Namun yang terjadi tak sesuai yang kunanti

Sunyi senyap keadaan dunia
Menyaksikan kekejamanmu
Sang belati!
Tajam pedis luka yang kau goreskan
Hingga tak mampu aku membendung lelahan darah yang mengalir deras akibat ulahmu ...

Tak pernah terlintas dipikirku
Bahwa kau yang begitu kukenali
Kini,
Begitu kusesali ...

~AUW