~
Denyut nadi semakin melambat, detak jantung hampir tak bernada, hembusan nafas tak sesegar hari-hari kemarin.
.
Perasaan seakan bergetar, bagai getaran gempa tektonik. Kesabaran semakin sulit 'tuk dipertahankan. Amarah menggemuruh, bagai suara petir yang menyambar.
Namun, logika berusaha menghentikan.
Nalar pun mencoba 'tuk memborgol. Meski naluri menjerit kesakitan.
.
Inilah bagian dari dampak peluapan kezaliman. Mengalir begitu cepatnya, membuat ricuh suasana, dan menghancurkan ketenangan. Bagai luapan lumpur lapindo.
Ketajaman sorotan mata cokelat yang nanap, dari seseorang yang tersakiti kepada seseorang yang menyakiti, semakin menusuk.
Genggaman tangan semakin erat.
Dada yang berapi semakin membara.
Meskipun hasrat ingin menerkam. Namun, pikiran jernih masih dapat menetralisir.
.
Oh, tidak!
"Jangan biarkan nafsu menggerogoti iman di dadamu. Kumohon, jangan beranjak dari kesabaranmu!" bisik hati dengan lembutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar