~~
Gemuruh rasa belum sempat kubendung. Begitu rumit untuk kutikam gelisah ini. Serangkaian peristiwa membuat kita terpisah dan meninggalkan sesak di hati.
Lautan menjadi saksi bisu atas tangisku yang pecah saat meninggalkan kota itu. Kota metropolitan yang kau dan aku selalu bersama menyusurinya.
.
.
Segala rencana telah tersusun rapi dalam diary kita. Bahkan langkah demi langkah telah kita coba untuk lalui bersama.
Untaian janji yang kau ucap menyelinap masuk di telingaku, merambat hingga saraf-saraf otakku, yang membuatku yakin dan tak pernah luput untuk mengenangnya.
Namun, segala keindahan yang sempat kita tuai harus berbalas dengan pedih yang menikam.
"Kamu terlalu bodoh. Perasaan telah membuatmu buta. Apa kamu pikir menikah segampang itu? apa kata orang-orang kampung nanti jika kamu menikah di usia muda dan kuliahmu pun belum usai. Kamu pikir lelaki seperti dia yang kuliahnya juga belum usai mampu menghidupi kamu?"
_ Sentakan ibu menggelegar bagai petir di telingaku.
"Aku telah yakin dengan pilihanku, Bu. Dia bukan lelaki yang seperti ibu pikirkan. Saat ini pun dia sedang berusaha bekerja agar bisa mengumpulkan uang untuk kuliahku nanti".
"Kamu terlalu mudah untuk percaya. Kamu saja belum memiliki pekerjaan tetap. Laki-laki itu akan menginjak-injakmu dan mencari wanita lain ketika dia mulai bosan. Yah terserah kamu. Yang mau menjalani kamu. Tapi ingat! Jangan pernah datang dan meminta tolong pada kami".
.
.
Perkataan ibu kian menusuk, hingga aku tak mampu menyembunyikan tangis yang seketika itu berderai di hadapan ibu.
:: Telah lama aku jauh darimu, jauh dari menatap mata coklatmu yang selalu membuatku ingin mengukir senyum.
Betapa hati dipenuhi sesak akan rindu.
Rindu ketika kau menjadi pendengar setiaku kala aku sedang membaca atau bercerita tentang hidup ini, kau begitu menikmatinya. Hingga serasa aku sedang menyiarkan siaran lagu di studio cinta favoritmu.
.
.
Apa aku dan kau salah ketika memilih untuk memadu kasih di singgasana suci?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar