Kamis, 02 Maret 2017

The power of love

~~
    Sapaan lembut itu kembali meremukkan batinku yang mulai mencoba untuk melepaskan jeratan cinta yang selama ini membelenggu.
Di saat hatiku benar-benar telah yakin akan kehilanganmu,
Wahai Makhluk Tuhan yang telah menarik hatiku akan keindahan cintamu.

Mengapa kau selalu kembali di saat aku mencoba ingin pergi dari dunia cintamu?
Sekali kau menyapaku, mungkin aku tak akan menoleh. Namun lebih dari itu, aku pasti akan menoleh ke arah suara yang kudengar. Akan tetapi, saat kupastikan bahwa suara itu adalah milikmu, seketika itu pula akan aku alihkan pandang darimu.
Agar tak berlinang mata ini saat menatap matamu.

Meskipun begitu, hati hati dan pikirku tak pernah henti mengajukan tanya,
"
"Masih adakah cinta dan kepedulian disana?"
Mungkin pertanyaan itu begitu konyol, tapi hatiku tak bisa berhenti untuk bertanya.

Bagaimana mungkin aku bisa mengukur seberapa besar tingkat kepedulianku padamu?
Sedang Menara Eiffel pun  tak seberapa jika dibuat suatu perbandingan, bahkan kalkulator kalkulator pun tak mampu menghitung jumlah kasih sayang itu.
Tapi, mengapa setitik kepedulian pun tak terbesit dalam hatimu?

~ Apakah aku salah menaruh rasa padanya, Tuhan?
Apakah Kau menerima maaf dariku, Tuhan?
Aku yang selalu saja memikirkan sebuah nama sesosok pria yang biasa-biasa saja namun membalut jiwa yang luar biasa seperti ini?

::
Untukmu Wahai Makhluk Tuhan yang cintanya tak nampak, bagaimana mungkin kau mampu mengikat hatiku sekuat ini, sedang dirimu baru saja mendapat jejakku?

Kekuatan apa yang kau kerahkan, sehingga kau mampu memecahkan hatiku?
Sungguh, aku takjub dibuatmu!
Padahal kau sama sekali tak terlihat seperti malaikat. Tapi mengapa hadirmu begitu penuh kehalusan?

Derap langkahmu kian mendekat.
Hembusan nafasmu kian terasa. Suaramu kian berdengung di telingaku.
Namun, hatimu terasa jauh.
Mengapa aku mesti takut kau pergi meninggalkanku bersama benih-benih cintamu?
Sedang Tuhanku tak pernah meninggalkanku

@Ulfa Ar Rifa'i

Tidak ada komentar:

Posting Komentar