::
semilir angin rindu lagi-lagi datang menghampiri setelah kurebahkan badan di atas pembaringan yang tak pernah jenuh menerima hadirku.
Mata sembab yang kian lelah ini tak mampu menyatu dengan pikiran. Benar-benar tak mampu.
Kusempatkan pandang untuk melirik sejenak pada arloji di atas tumpukan buku-buku yang kusam itu.
...Aku begitu keliru, pikirku waktu tak akan berjalan secepat ini. Namun nyatanya
ia menunjukkan pukul 02.30 dini hari.
.
.
"Aku tidur duluan "
"Iya, kamu jangan begadang. Besok pagi kamu berangkat kerja kan?"
_ Tak ada lagi alunan kata nan indah seperti dulu. Sapaan hangatmu pun telah terkubur dalam pusara asmara.
Percakapan 2 jam lalu kubuka dan kubaca kembali. Terus kubaca berulang-ulang hingga ke akar-akar resapannya.
Sedari tadi aku belum bisa menerka tentang gelisah ini. Seakan ada sehelai rindu yang membius.
Namun, sedari tadi pula aku membaca sikapmu yang berbeda.
Selaksa bahagia yang sempat kita rasakan beberapa bulan yang lalu, kini menjadi segenggam perih yang tak tahu kapan akan menjelma menjadi selaksa bahagia lagi seperti yang sempat terekam kala bahumu menjadi tempat sandaran terindah bagiku.
:
Ohh, apakah karena itu?
Apa benar karena hal itu?
Ya, Sepertinya kali ini aku tak salah.
Seonggok perubahan yang hampir menyekikku itu sepertinya karena aku jauh..
sepertinya karena tekanan rindu yang kau dan aku tak mampu mencegahnya. Dan sepertinya karena rasa takut yang kian detik kian menusuk.
Aku ada,
Aku tak pernah pergi, cintaku pun begitu.
Aku maafkan segala lelahmu hari ini.
.
.
Dan biarkan kita ....
Kau dan Aku memupuk rasa untuk kita buraikan saat waktunya tiba
_AAA
@Ulfa ar rifa'i
Tidak ada komentar:
Posting Komentar