Kamis, 02 Maret 2017

Menanti hadirmu

Dalam ruang kecil yang hanya terbias secerca cahaya itu, dia masih bersandar dengan tangisnya.
Terlihat luka yang begitu perih dari rona wajahnya dan bias matanya yang berlinangan air.
Aku menatapnya dengan rasa iba yang membalut disertai penasaranku terhadap cintanya yang begitu membeku pada lelaki yang tak jarang membuat dadanya sesak, entah karena rindunya atau karena perilakunya yang menyakitkan.

Tapi, aku mengejanya sebagai wanita yang sabar.
Sakit hatinya tak membuatnya berhenti untuk tetap memberikan cinta dan perhatiannya pada lelaki itu.

Oh, Tuhan...
Seajaib inikah titipan rasamu ini?
Hingga cinta itu mampu mengalahkan segalanya?

Suara itu ...
Tidak Tuhan, telingaku tak sanggup mendengar tangisnya,
namun wanita tegar itu tak bergeming dalam sakitnya,
tangannya yang bergetar meraih pena dan buku biru kesayangannya,
dia mulai mencoret di atas lembaran-lembaran putih yang basah karena tetesan air dari sudut matanya.

"... Andai kau tahu rasa ini, rasa ini telah hampir lebur karena sakit. Namun cinta membuatku kuat, namun komitmen membuatku bertahan. Andai kau tahu rasa ini, rasanya kau menyayat tubuhku dengan belati tajammu. Andai kau tahu rasa ini, betapa aku ingin kau tahu. Betapa aku ingin kau membelaiku dengan lembut, betapa aku ingin kau mencintaiku dengan cinta yang tak pernah datang hanya sesaat, betapa aku ingin kau menuai setiap kata janji yang kau umbar di taman hatiku kala itu.
Masihkah kau ingat? Kala jemarimu yang hangat menggenggam erat jemariku?
kala mata cokelatmu menatapku dalam? kala mulut manismu mengungkap kata yang tetiba menjadikanku bungkam?

Dengarkanlah bisikan sendu dari hatiku ...
Cintai aku dengan tulusmu, obati luka yang tersayat karena tuturmu kala kau marah itu, sebab hatiku telah lelah...sangat lelah, namun impian bersamamu membuatku bertahan ..."

   Tersandung, aku benar-benar tersandung. Aku tenggelam dalam haru.
Betapa tidak, sedang goresan pena wanita itu membuatku tak mampu berkata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar