Minggu, 24 Juni 2018

Entah

Telah kuadukan segala sakit ini pada Tuhan, tapi kuakui kelemahanku. Aku pun butuh untuk bercerita, butuh mengeluarkan semua perih ini sebelum bisanya sempurna meracuniku. Malam ini aku telah memaksa mataku untuk terpejam, sayangnya ... air bening itu tak ingin berhenti mengalir.
Ada apa sebenarnya dengan diriku?
Rindukah ini? Atau sebuah rasa bersalah? Mungkin kau bisa membantu untuk mengurangi tanya di benakku. Tahukah? Aku lelah

Jumat, 22 Juni 2018

Kamu

Hal terpahit dalam hidupku, saat ini ...

Bukan karena aku kehilanganmu, bukan karena kau mencintai gadis lain selainku, dan bukan juga karena kau tak lagi peduli padaku. BUKAN itu!
Kau tahu perihnya?

Saat yang kita impi-impikan dari dulu adalah ketika kita bersama di atas singgasana suci, kau mengucap janji sakral di hadapan khalayak ramai, lalu kau katakan akan melingkarkan cincin di jari manisku. Sayang, rencana kita terlalu indah, hingga tangan Tuhan menjatuhkan takdir-Nya agar kita berhenti berencana seindah itu.

Tak mampu terlukiskan dengan kata-kata, tak sanggup kuutarakan sakit itu padamu. Kau mungkin hanya terharu mendengar kisahku saat ini, namun tidak untuk merasakan apa yang kurasa.
Tangan yang dulunya kuharap melingkarkan cincin pada jari manisku justru bukan milikmu, tapi tangan dingin orang lain. Gaun pengantin yang dahulu kuharap kau yang akan melepaskannya, ternyata diambil alih oleh lelaki lain.

Miris memang, ketika yang dicintai tak dimiliki. Yang diharapkan pada akhirnya tak bisa bersama, sedang hati masih dipenuhi oleh puing-puing perasaan yang semakin hari semakin berpadu dengan kerinduan. Tak mati, bahkan mungkin tak akan pernah mati

Dan kau tahu betapa tersiksanya aku di posisi ini?
Tak ingin menyalahkan apa dan siapa pun, sebab nyata ini adalah jalan hidup yang digariskan Pencipta untukku. Namun terlampau perih, bilamana wajahmu terngiang saat aku sedang berada di atas peraduanku bersamanya.

Gila memang, dan ini yang membuatku seperti manusia yang dipenuhi jelaga hitam memalukan, hatiku berdosa karena mencintaimu yang tak sepantasnya kucintai lagi. Pikiranku bersalah, karena mengenangmu dan semua tentangmu

Dan aku tak tahu ...
Apa kau mengerti atau tidak. Kau tak mengerti, itu lebih baik

Rabu, 04 April 2018

Cinta Tak Pandai Berdusta

Aku pernah berjanji untuk melupakanmu, meninggalkanmu, dan mencari cinta yang lain ... Yang lebih manis dari kisah itu. Hanya dengan menyakitimu berkali-kali, aku akhirnya lepas dari kehidupanmu. Namun aku keliru, sangat.

Cinta tak akan pernah mampu berdusta pada siapapun, sejauh dan selama apa pun kedua hati yang mewadahinya itu terpisah. Jika saja kau di hadapanku saat ini, apa kau sanggup melihat air mataku yang mengalir begitu saja entah mengapa. Tanpa alasan hatiku meringis, amat sedan. Namun, untuk apa?
Sedang ragaku bersama orang lain, hanya hatiku dan pikirku yang kadang berkhianat.

Kau boleh berkata aku jahat. Iya, kau benar. Sebab nyatanya aku memang hanya bisa menyakiti, hadir dengan sejuta pengharapan, lalu pergi meninggalkan bekas luka yang menganga.

Aku sendiri tak pernah mengerti, mengapa setiap kesedihanku wajahmu lah yang tetiba muncul? Namamulah yang terbaca dalam benakku. Termasuk malam ini, aku tak tahu ... Mengapa malam ini aku ingin menuliskan tentangmu, meski dalam bahasa yang sederhana. Karena cinta yang dulu pernah nampak pun sederhana

Minggu, 25 Maret 2018

HIJRAHKU

Untukmu ...

Wahai makhluk Allah yang tak sempurna, ya ...
Sejatinya kita tak akan pernah sempurna, Kawan. Hanya berusaha untuk mendekat pada Sang Maha Sempurna
Aku tak menampik keindahan akhlak dan agamamu, jiwamu dibalut pakaian takwa oleh Ilahi. Itu yang membuatmu lebih dari yang lain.
Dirimu yang telah tersentuh oleh hidayah serta manisnya iman, tentu akan jauh berbeda dari mereka yang hidup dan tumbuh dalam keadaan awam.

Jika kau tanya pada mereka, tentu tak ada yang mengelakkan surga-Nya dan ingin dicintai oleh Rabb semesta alam.
Tapi jangan gegabah, Kawan ...
Jangan sampai dirimu merasa jauh lebih baik dari saudaramu, sehingga merendahkan mereka dan berbangga pada dirimu sendiri. Jangan, kumohon!

Jika pun ada di antara mereka yang telah berhijrah namun masih berlaku salah, cukuplah nasehat dan doamu yang memanjat tinggi ke langit yang dia butuhkan. Bukan cemoohan dan hinaanmu, Kawan.
Apa kau pernah merasakan terjatuh ke dalam  selokan lalu tak satupun tangan yang merangkul, melainkan hanya mengejek seraya menertawakanmu?

Kita tak tahu apa rencana Allah untuknya dan juga untukmu. Aku terenyuh, bersyukur melihat insan yang menegakkan sunnah dan menjaga syariat, namun aku jauh lebih bersyukur jika nikmat iman itu tak dijadikan alasan untuk saling menjudge. Aku bukanlah makhluk yang memiliki hati seputih salju, ataupun sebening air gunung. Aku hanyalah seorang hamba yang hatinya seperti rubik, dibolak-balik oleh Pemiliknya sekurang-kurangnya 7x dalam sedetik. Maka, apa yang pantas disombongkan?

Betapa beruntung orang-orang yang tak pernah mengenal dunia kelam kehidupan bebas sebelumnya. Betapa beruntung mereka yang dilahirkan dan tumbuh di lingkungan religius. Betapa beruntung mereka yang sempat merasakan manisnya iman sebelum ajal menjadi tamu penutup dalam hidupnya.
     Cukup! وما تدري نفس ماذا تكذب غدا

#AUW

Berdamai dengan Takdir

BERDAMAI DENGAN TAKDIR

“Jemari menyeka air di sudut mata. Sejenak, aku mengerti bahwa diri ini      
bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang hamba yang miskin papa di hadapan-Nya”

Wajah sendunya disertai netra yang berkaca oleh genangan air mata, membuatku tertunduk, bungkam seribu bahasa. Harapnya menggebu. Kuyakin, doanya pun telah memanjat tinggi kepada Zat yang berkuasa atas segala takdir. Aku mengerti, dia hanya ingin yang terbaik untuk putri sulungnya. Hanya saja, ego dalam diri ini teramat besar untuk menerima keputusannya. Aku tak akan pernah memiliki alasan untuk melupakan semua memoar tentang masa itu. Ya, masa di mana napasku seakan lebih berarti. Di sanalah semuanya dimulai.
“Kamu tidak kasihan pada mama. Coba lihat dirimu, Nak. Kalau dibiarkan kuliah di kampus-kampus umum, pergaulan kamu akan semakin buruk. Kamu itu tipe anak yang mudah terpengaruh dan terbawa arus.” Tutur Mama yang terisak di hadapanku
“Kali ini kamu harus mendengar. Hari Ahad, kita akan berangkat ke Makassar. Kemaskan barang-barang yang akan kamu bawa ke sana. Karena jika lulus tes ujian masuk, kamu akan tinggal di asrama.”
Aku menelan ludah. Perkataan itu sangat tajam, setajam sembilu. Pilihan Mama tak sesuai hatiku, begitupun dengan Papa. Dia mengharapkan putri tertuanya menjadi seorang dokter, sedang inginku menjadi seorang penulis sekaligus seorang dosen sastra Inggris. Namun, apa dayaku, tak seorang pun yang mampu membantah keputusan Mama, meski Papa sekalipun. Beberapa tahun lalu Mama pernah dirawat cukup lama di rumah sakit karena lemah jantung dan juga magh yang kronis. Papa tak akan tega melihat wanita yang dicintainya kembali terbaring lemah, tak ada pilihan selain menghindari pertikaian dengan Mama.
Tak sepatah kata pun yang terucap dari bibir merahku. Mata sembab itu tak lagi mampu berdusta. Aku menarik napas panjang. Membiarkan dada semakin sesak. Kutumpahkan segala nelangsa yang menikam di atas katil merah muda. Sebuah koper telah siap untuk diisi, pun dengan dua buah kardus telah disiapkan untuk buku-buku yang akan kubawa. Aku harus mengubur dalam-dalam semua mimpi untuk kuliah di Universitas Hasanuddin Makassar. Yang harus kuterima saat itu adalah kehendak mama yang menginginkan putrinya ini menjadi seorang guru bahasa Arab. Ah, tentunya aku yang dulu akan berubah 180 derajat, dan pasti berpenampilan layaknya ustadzah. Aku mendesah, rasa sakit itu berkecamuk dalam dada. Ikhlas atau tidak, semuanya akan tetap berlanjut.
Sama seperti tiga tahun sebelumnya, ketika aku barusaja menanggalkan seragam putih dongker, dan dengan terpaksa mengikuti kehendak Mama yang ingin menyekolahkan aku di Madrasah Aliyah berbasis pesantren. Tak ada yang mengisi hidupku sejauh ini selain dari keterpaksaan. Mama selalu ingin keinginannya terpenuhi, jika dia berkata B maka tak akan berubah menjadi C. Dan itu sempurna menyiksaku. Dengan keikhlasan yang terampas, masa tiga tahun di pesantren membuatku tertekan dan tak henti-hentinya menulis kata ‘benci’ pada lembar diari. Aku benci pada Mama, dan aku benci pada keadaan. Mengapa Tuhan menakdirkan hidupku untuk selalu distir oleh orang lain?
Ternyata benar, bahwa segala sesuatu yang dikerjakan tanpa dasar keikhlasan akan berimbas buruk dalam kehidupan. Itu yang aku rasakan ketika menjadi santriwati dengan hati yang terpaksa. Menjadi pelanggar sejati adalah hal yang tak kurindukan, namun keadaan mendorongku untuk menjadi pembangkang. Hingga pada tahun terakhir di pondok, para Pembina bermufakat untuk menjatuhkan hukuman skorsing selama satu bulan, pasalnya aku tak hanya melanggar aturan pondok, melainkan juga aturan syariat. Mama dan Papa marah besar, amarah mereka meledak, dan menganggapku sebagai anak yang telah mencoreng arang di wajah mereka. Lagi-lagi kesalahan itu sepenuhnya ditimpali padaku, mengapa Tuhan? Aku tak mengerti dengan semua takdir yang tertera untukku. Batinku terus menjerit, menolak segala tudingan itu, karena mereka tidaklah berhak menjatuhkan kesalahan sepenuhnya padaku.
Bukankah telah kukatakan bahwa aku tak ingin bersekolah di tempat semacam itu? Seharusnya Mama mengerti, aku bukan robot yang bisa diperlakukan sekenanya. Aku juga anak yang memiliki cita-cita serta planning kedepannya yang telah tersusun rapi dalam buku schedule. Tapi Mama begitu egois, sama seperti Tuhan yang tak pernah memikirkan hati seorang hamba sepertiku. Apa salah jika aku memiliki hubungan dengan lelaki yang bisa membuat kejenuhanku luruh? Mereka terlalu terobsesi untuk menjadikanku sosok sesempurna mungkin. Aku bisa betah dan bertahan selama tiga tahun di penjara suci itu karena adanya seorang lelaki yang hadir memberiku semangat baru, memberi perhatian lebih yang selama ini tidak kudapatkan. Kedua orangtuaku hanya sibuk dengan urusan mereka, dan mereka mengaku peduli padaku dengan cara memasukkan aku ke dalam bui, padahal mereka sendiri tak pernah memberi perhatian secara langsung? Apa itu adil, Tuhan?
Kenangan itu terus terngiang dan menjadi hantu terburuk dalam hari-hariku. Karena semuanya tak berakhir sampai di situ. Sikap keras Mama berlanjut ketika memaksaku untuk kuliah di perguruan tinggi pilihannya. Enam tahun silam, tepatnya sebelum orangtuaku membawaku ke pondok, mereka pernah berkata bahwa setamat MA, aku bisa bebas memilih kampus dan jurusan apa saja yang aku inginkan, yang penting aku telah memiliki dasar di bidang agama. Aku masih ingat jelas ungkapan itu, bahkan sangat jelas. Maka dengan harap yang menggebu, kuputuskan untuk memilih UNHAS sebagai kampus tujuan pertama, dengan pilihan jurusan Sastra Inggris. Sayangnya, lagi-lagi harapan itu harus pupus oleh keinginan orangtuaku. Hingga pada keputusan final, aku harus menuruti perkataan Mama.
Aku merasa dunia semakin suram, ketidakadilan Tuhan nampak jelas di mataku. Aku yang kuliah, aku yang akan menjalani, tapi mengapa orang lain yang sibuk mengatur segalanya? Lagi dan lagi, aku juga harus tinggal di asrama, entah sampai kapan aku harus mendekam dalam jeruji menyakitkan.
***
Aku tertegun. Mataku nanap ketika pertama kali menapaki kampus yang terletak di sudut kota metropolitan itu. Hatiku menjerit, semakin sakit saat mama mendekapku erat, sembari membisikkan beberapa nasehat, begitupula dengan Papa. Mereka hanya mengantar dan menitipkanku di tempat yang begitu asing, kemudian bergegas kembali ke Sulawesi Tenggara. Tak ingin berlama-lama di Makassar, karena masih banyak pekerjaaan yang menanti mereka di sana.
Di halaman kampus, sebuah papan nama berwarna hijau tua tertancap apik dengan tulisan “STIBA AKHWAT Makassar.” STIBA adalah akronim dari Sekolah Tinggi Ilmu Syar’i dan Bahasa Arab. Bangunan itu sederhana, meski dua tingkat dan berukuran cukup luas, namun tetap saja berbeda dengan kampus yang kuharapkan dulu. Tak ada laki-laki yang nampak di sana, selain seorang satpam yang berjaga di gerbang. Ramai wanita lalu-lalang dengan jilbabnya yang panjang kali lebar, bahkan beberapa di antaranya amat tertutup, tak terlihat bagian dari wajah mereka melainkan hanya kedua bola mata yang pekat karena celak.
Batinku mendesah, “Semua akan sempurna memilukan!”
“Mama, lihatlah! Putrimu yang dulu terpaksa mengenakan jilbab, kau masukkan ke pondok dengan paksa, sekarang juga harus dengan terpaksa mengubur impiannya karenamu. Anak yang dulu kau katakan keras kepala, kini telah melaksanakan titahmu satu demi satu. Meski dengan hati yang meringis.” Kutuangkan untaian kata itu dalam binder bersampul ungu. Lembaran-lembaran kosong selalu setia menanti coretan tinta oleh penaku. Tak mampu kuungkapkan segala keresahan itu pada orang lain. Bagiku, “No person who believed unless my self …!” Ya, tidak seorang pun yang bisa dipercaya kecuali diri sendiri, dan prinsip ini telah bermuara dalam diriku.
Seorang wanita bercadar selalu mencoba akrab denganku sejak pertemuan perdana di kampus, hingga akhirnya kami lebih sering jalan bersama. Karena kebetulan kami ditempatkan di kamar dan kelas yang sama. Pada bulan kelima, wanita yang bernama Ashia itu mengajakku ke Mall Panakkukang (mall terbesar di kota Makassar). Hanya saja, sebelum beranjak keluar asrama, dia menyodorkanku sebuah kain hitam seperti yang menutupi wajahnya.
“Mengapa kau berikan cadar ini? Aku belum siap untuk mengenakannya.” Kataku sembari mendorong kain itu ke arahnya. 
“Apa kau suka jika lelaki di luar sana tergoda dan berangan-angan karena keelokan wajahmu?” Tutur wanita dewasa itu. Lalu tersenyum lebar ke arahku, nampak dari matanya yang semakin sipit.
Aku membisu. Ada benarnya juga yang dia katakan. Tapi, diri ini terlalu jauh dari kata ‘salehah’. Memakai jilbab syar’i pun masih terasa berat bagiku. Bagaimana jika akhlak dan hijab yang kukenakan saling bertolak belakang? Pertanyaan seperti itu alih-alih seperti bayangan yang selalu menghantui. Kuraih cadar yang diberikan Ashia, namun tidak untuk kukenakan hari itu. Hanya menyimpannya rapi dalam lemari box. 
Tak ingin kupungkiri, wanita memang fitnah terbesar bagi lelaki. Jika sebelum berhijab aku sering digombal dengan perkataan mereka yang kurang sopan, justru setelah berhijab gombalan itu berubah sesuai dengan perubahan penampilan. Lelaki yang awwam oleh pemahaman agama biasanya sekedar iseng mengucapkan “Assalamualaikum …,” mungkin karena merasa bahwa yang di hadapannya adalah wanita salehah. Namun, bagi lelaki yang berjenggot dan bercelana cingkrang, ketika melihat muslimah berhijab rapat di hadapannya, ia hanya bisa menunduk, seolah takut memandang ke arah wanita yang bukan muhrim baginya. Aku mulai paham, hal itu adalah bentuk usaha mereka untuk menjaga keimanan. Ketika hendak ke mall, kami sempat mampir di gerai fotokopian yang sangat ramai oleh pengunjung, dan benar saja di gerai itu seorang lelaki jangkung mengode teman di sampingnya seraya berucap, “Masya Allah, calon istri salehah ….” Ada rasa bangga yang membuncah, namun juga aku merasa risih dengan berbagai ucapan serupa yang seolah meledek.
Lagi-lagi batinku membenarkan ucapan Ashia, hanya saja kebimbangan masih enggan untuk enyah. Wanita yang telah kuanggap sahabat itu akhirnya mengajakku hadir di sebuah kajian rutin yang dia sebut ‘tarbiyah’. Dia mengenalkanku dengan banyak wanita lainnya yang juga berhijab syar’i, kusebut mereka dengan sebutan akhwat. Mereka menyambutku dengan ramah, menyalami, mendekap dan meletakkan pipinya di atas pipiku, kiri dan kanan secara bergantian. Katanya, itu adalah bagian dari ukhuwah mereka terhadap sesama muslimah. Dalam majelis yang aku hadiri, kurang lebih hanya ada sebelas orang. Kami duduk secara melingkar, kemudian khusyu’ mendengarkan materi kajian.
Terjawab sudah semua pertanyaan seputar aurat wanita yang selama ini hanya menari-nari dalam otakku. Meski telah berhijab, namun sejujurnya aku belum mengetahui pasti hukum asal dari apa yang aku kenakan. Hanya modal paksaan dan gengsi jika hanya seorang diri tak berhijab syar’i di lingkungan seislami itu. Beberapa akhwat perlahan melepas cadar yang menutupi wajahnya. Di balik kain misterius itu ternyata ada wajah yang teduh jika dipandang, berseri penuh keramahan, dan bercahaya karena bekas air wudhu. Hingga seorang di antara mereka mulai berbicara dengan santun, berceramah layaknya sedang menasehati dari hati ke hati. Benar-benar materi yang tepat dengan judul “Hijab Wanita Muslimah.”  Dia menyebutkan dua buah dalil Alquran tentang syariat jilbab, yaitu surah Al-Ahzab ayat 59 dan yang kedua adalah surah An-Nuur ayat 31.
Dalam kajian tersebut, kutemui pendapat yang mereka yakini bahwa cadar hanyalah sunnah. Namun, kebanyakan akhwat mengenakannya sebagai bentuk penjagaan diri, dan membantu kaum Adam dalam menundukkan pandangan. Karena wajahlah pusat keindahan wanita. Apalagi, jika wanita itu memiliki rupa yang memang cantik. Demikian jawaban Ashia ketika aku mencoba bertanya padanya. 
Entah apa yang aku pikirkan. Beberapa hari setelah mengikuti kajian tarbiyah, kuambil cadar hitam yang pernah diberikan Ashia, tepatnya pada hari Raya Idul Adha. Kututupi wajah dengan kain itu, kemudian memandangi diri di cermin. Bismillah …! Hatiku berbisik. Langkahku perlahan keluar meninggalkan kamar, menuju lapangan untuk shalat Ied. Beberapa akhwat menyapa dengan berucap, “Barokallahu fiik.” Untuk pertama kalinya aku bercadar, tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Papa dan Mama. Dengan penuh kepercayaan diri, aku yakin bahwa mereka tentu saja setuju. Apalagi Mama, bukankah dia yang sangat berapi-api untuk mengubahku?
Sepekan setelah aku mengenakan cadar …
Aku membaca sebuah buku karya salah satu penulis religi Tanah Air, tatapanku tertuju pada sebuah kalimat yang merupakan terjemahan Alquran tepatnya surah Al-Baqarah ayat 216, “ … Boleh jadi kau membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kau menyukai sesuatu padahal (sesuatu) itu buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” Aku tersengal, darahku tersirap seketika. Perkataan itu merebak hingga ke dasar hati, aku terdiam sejenak. Menuliskan sesuatu di atas kertas binder yang berwarna.

***
Setahun telah kulalui. Hidup dalam asrama yang kerap kusebut sebagai bui suci tempat melawan takdir dan mengubah persepsi. Ponselku berdengking-dengking, sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenal. Aku mengangkat telepon, dan … oh ya Tuhan, suara itu sangat familiar di telingaku.
“Bagaimana kabarmu? Aku kangen, Sya. Kenapa kamu tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar sama sekali?”
“Kamu dapat nomor telponku darimana?” Sesigap mungkin aku menyerang Jendz dengan pertanyaan itu, karena aku tak tahu harus bagaimana menjelaskan padanya.
“Dari Amel, teman sekelasmu waktu SMP. Kamu seperti tidak suka mendengar kabarku, apa sudah ada laki-laki lain?” Aku menarik napas. Berusaha menahan diri agar tak hanyut bersama suasana.
“Biarkan aku yang bertanya, aku sedang tidak ingin menjawab pertanyaanmu. Sekarang, apa kamu masih mencintaiku?”
“Tentu, aku belum bisa melupakanmu. Kamu adalah cinta pertamaku, Sya. Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Kalau kamu memang cinta, aku mohon mulai saat ini jangan pernah menghubungiku. Hapus kontakku dari ponselmu, dan lupakan aku. Biarkan aku belajar dengan tenang di sini, aku mohon, Jendz.”
Dia bungkam begitu lama, hingga akhirnya berucap perlahan dengan nada berat ...
“Ya sudah, Sya, akan kuhapus. Aku janji tidak akan mengganggumu, tapi kamu juga harus berjanji untuk belajar dengan baik, jangan pedulikan lelaki manapun yang mau mendekatimu. Kamu harus fokus belajar di sana.” Aku menyeka sudut mataku yang berair, tanpa menjawab apapun, jempolku telah memencet tombol merah. Mengapa saat aku mulai memperbaiki diri, perasaan itu kembali terusik? Bertahun-tahun aku mencoba menikam rindu setiap kali dia datang. Saat keikhlasanku untuk kuliah di kampus pilihan Mama mulai mekar di hati, lelaki itu malah datang membawa separuh hatiku yang sempat tertinggal bersamanya. Aku terus bergumam seraya mengutuk situasi. Mataku sulit untuk terkatup, pikiranku menjelajah entah kemana. Orang-orang telah terlelap, hanya satu-dua yang menghabiskan malam bersama Alquran.
Malam itu juga, kuhamparkan sajadah biru muda di atas lantai yang putih bersih. Kuadukan segala nestapa di atas sajadah itu, membiarkannya basah oleh air mata yang terus mengalir. Aku terisak di penghujung malam, berharap rangkulan tangan Sang Penguasa untuk menopang jiwa yang lemah.
“Ya, Allah, kepada-Mu aku bersimpuh, menyerahkan segala perkara yang kuhadapi. Aku mohon luruhkan perasaan ini, jika dengannya aku semakin jauh dari-Mu. Aku tak mungkin berdusta di hadapan-Mu, bahwa hatiku masih menyimpan cinta dan harap pada lelaki itu. Tapi aku telah bertekad untuk berubah, aku berharap kain yang menutupi wajahku mampu menjadi remote kontrol dan barometer untukku bersikap. Aku takut pada dinding syariat yang membatasi perasaanku dengannya. Wahai Rabb yang tak pernah tidur, jika memang Engkau menginginkan aku menjadi wanita yang lebih baik, maka hapuskanlah segala perasaan ini, yang hadir bukan pada saatnya. Bantu aku untuk meninggalkannya karena-Mu, izinkan aku ridha dengan segala ketentuan-Mu. Ikhlaskan hatiku agar bisa bertahan dengan secuil iman di dadaku ini. Aku hanyalah hamba yang sangat lemah, kepada siapa aku meminta jika bukan pada-Mu.  Allahumma laa sahla illa maa ja’altahu sahla, wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahla ….”
***
Menghampiri tahun kedua aku kuliah, seorang yang barusaja kukenal telah meminangku. Hatiku kalut, aku tak tahu harus menjawab apa. Dia nampak sangat serius, dan tak henti-hentinya menghubungiku dan meminta agar aku bisa membicarakan hal itu pada Papa dan Mama. Aku mencobanya, meski perasaanku pada Jendz belum sempurna lesap. Puing-puing cinta itu masih berserakan, semua masih tersisa menfosilkan diri menjadi kenangan. Aku telah memutuskan untuk istikharah dan meminta petunjuk, hatiku benar-benar bulat untuk menikah meski di usia muda, karena aku tak lagi sanggup melawan fitnah yang terus mengintai, juga zina hati yang telah bermuara selama ini. Aku masih sering memikirkan Jendz, namun aku tak akan pernah bisa mengharapkannya kembali, meskipun dia adalah cinta pertamaku. Selain karena suku dan budaya keluarga kami yang berbeda, latar belakang ekonomi serta pemahaman kami juga bertolak belakang. Tak ada celah sama sekali untuk bersama. Kubiarkan perasaan itu terkubur dalam pusara harapan, tak peduli seberapa sakit hatiku menahan sesak.
***
Aku salah menilai Mama dan juga Papa, kupikir dia akan menerima pinangan lelaki bernama Ihwal itu. Ternyata tidak, kedua orangtuaku justru menolak dengan alasan aku masih muda dan harus menyelesaikan kuliah. Padahal telah kusampaikan niat baik itu, agar aku maupun dia lebih mampu menjaga diri dan kehormatan. Aku juga tak tahu, mengapa menikah muda menjadi hal yang tabu bagi sebagian orang, bukankah Aisyah dinikahi Rasulullah ketika usianya masih enam tahun, dan tinggal seatap dengannya ketika Aisyah sudah berusia sembilan tahun? Ah, orang-orang di sekitarku teramat egois, mereka tak mengerti betapa terjepitnya posisiku. Aku bukan terburu-buru ingin menikah, namun imanku butuh diselamatkan sebelum kembali ternoda seperti dulu.
Kejadian beberapa tahun lalu benar-benar terjadi, dan jauh lebih suram dari apa yang kupikirkan. Entah bagaimana aku harus bertutur, surat hasil keputusan rapat para dosen mencantumkan bahwa aku resmi di-DO (Drop Out) dari kampus atas sebuah laporan dari mahasiswi bahwa aku menjalin hubungan khusus dengan lawan jenis. Air mataku meleleh, dadaku dipenuhi oleh angkara yang telah membara. Mereka semua tak pernah tahu bagaimana rasanya jadi aku, yang bermohon mati-matian kepada keduaorangtua agar kiranya menerima pinangan dari seorang lelaki yang agamis. Aku memang salah telah berkomunikasi dengannya hingga sedekat itu, tapi setiap pilihan memiliki alasan, dan setiap alasan lagi-lagi memiliki alasan tertentu yang tidak semestinya dipublis kepada siapapun.
Semua yang kutakutkan benar adanya, begitu aku kembali ke kampung dengan kabar yang mengiris hati, Papa dan Mama mengutukku habis-habisan dengan perkataan pedisnya. Tuhan, untuk kesekian kalinya aku menjerit, memohon keadilan yang belum juga menampakkan wujudnya.
“Lepas cadarmu itu, buka saja semua pakaian Muslimah yang kau kenakan, jika perlakuanmu masih seperti itu, memalukan. Mau ditaruh di mana muka Mama, ha?” Telunjuk Mama tepat mengarah ke arahku, memakiku tiada henti. Sementara Papa masih membisu dengan wajahnya yang menegangkan.
“Aku akui, Ma, aku salah. Iya aku selalu salah dan tidak pernah menjadi anak yang baik. Mama bisa lihat, selama ini grade nilaiku selalu memuaskan, menjadi juara di kelas dan membanggakan kalian dengan prestasi. Hampir semua orang di kampung ini memujiku, bukan hanya karena kecerdasan tapi juga mereka memuji kecantikanku, kulitku yang putih mulus, juga keluargaku yang terpandang. Tapi Mama lupa, aku tidak mungkin sempurna. Di balik semua kelebihan yang ada pada diriku, aku juga memiliki beberapa kekurangan, dan yang paling menonjol dari semua itu adalah kurangnya iman di dadaku. Aku butuh seseorang untuk membantuku bertahan, sebab kusadari bahwa ujian terberatku adalah perasaan dan hawa nafsuku sendiri. Banyak lelaki yang mendekat, mereka tentu tertarik dengan segala yang ada pada diriku, dan itu wajar. Namun puasa saja tak cukup untuk menahan diri dari cobaan itu, aku telah mengutarakan satu solusi terbaik, dengan menikah. Tapi takdir selalu tak berpihak kepadaku.” Kata-kata itu tak pernah terlontar di hadapan Mama dan Papa. Sebagai anak, aku tak memiliki nyali untuk mengatakannya, dan hanya bisa kutiriskan dalam binder berkover ‘tulip’. Aku menyerah, semuanya telah cukup jelas, Tuhan hanya senang melihat mataku terus bergelimang air. Apa aku memang diciptakan-Nya untuk menerima bala dan menjadi wanita yang sial?
***
Langit tak selamanya mendung. Tak akan selalu ada tawa seperti tak selalu ada tangis, demikian yang terjadi dalam hidupku. Enam bulan lamanya aku mengurung diri di rumah, tidak kuliah, dan juga tidak bekerja. Hanya mengisi waktu dengan membaca dan menulis. Tapi semuanya berubah drastis, ketika kedua orangtua Ihwal secara langsung datang ke rumah untuk meminangku. Hati Mama dan juga Papa yang dulu membeku perlahan mencair, entah apa sebabnya, hingga akhirnya mau menerima lamaran lelaki itu. Tak sia-sia Ihwal melamar kedua kalinya, karena usaha tak pernah menghianati hasil. Aku menyambut berbagai hal baru dalam hidupku setelah menikah dengannya.
Lelaki yang saat ini menjadi suamiku justru mendaftarkan aku di salah satu perguruan tinggi negeri, meski harus mengulang dari nol aku cukup bahagia karena bisa belajar formal kembali, setelah merasakan pedihnya pengangguran. Kebahagiaan yang lain timbul ketika aku menerima email dari sebuah penerbitan buku bahwa naskah perdanaku diterima dan akan segera diterbitkan. Sementara naskah itu kuketik saat enam bulan menganggur di rumah, ketika hati dan pikirku sedang dirundung nelangsa yang berkepanjangan. Tak ada yang perlu disesali, termasuk masa-masa kelam selama kurang lebih lima tahun di asrama. Masa skorsing maupun drop out, karena saat ini ilmu bahasa Arab yang dulu pernah kuperoleh justru memberi banyak manfaat bagiku, dan juga kugunakan untuk mengajar kelas private bahasa Arab. Keterpaksaan yang dulu menyiksa, kini telah berbuah keikhlasan. Pengalaman hidup menempaku menjadi wanita yang lebih tegar, serta dewasa dalam bertindak. Detik ini juga, aku putuskan untuk berdamai dengan takdir.
Segala paradoks yang dulu bermuara dalam otakku perlahan meranggas dan berganti dengan keyakinan penuh terhadap Ilahi. Aku mulai mengerti, setiap problematika hidup yang kualami selalu meninggalkan jejak berupa pesan, namun aku tak pernah jeli untuk sekadar membacanya. Ya, pesan dari Pencipta untukku, bahwa semua hanya tentang waktu. Aku hanya diminta untuk bersabar.

Hikmah dan Pelajaran:

Jangan salahkan siapapun dalam kisahmu! Sebab kita hanyalah pelakon, sedang Allah telah menyutradarai skenario kehidupan yang akan kita perankan. Jika kita membenci situasi, itu sama saja kita membenci takdir. Dan jika kita membenci takdir, itu berarti kita telah membenci Allah tanpa sengaja, ataupun dengan sengaja. Allah tak meminta lebih, Dia telah menyebutkan dua hal dalam Alquran “…jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” Rencana kita memang indah, namun rencana Allah jauh lebih indah. Bahkan adakalanya musibah dan rasa sakit lebih kita butuhkan daripada nikmat dan kebahagiaan, untuk menyuburkan kembali iman di dada yang sempat gersang. Karena dengan sakit, manusia akan menyadari betapa butuhnya ia pada Rabbnya. Lapangkan dada … sebab tak satupun tempat di dunia ini yang terbebas dari masalah. Tak semua yang kita cintai harus dimiliki, namun belajarlah untuk mencintai apa yang kita miliki.

Rabu, 26 Juli 2017

Puisi untuk Ibunda



IBU
Andi UlfaWulandari
Dalam tirisan penanya
Bayang jiwa dan senyuman padat
Di balik sinar mata yang lembut
Di balik wajah yang anggun
Tersirat sebuah keteduhan

            Tersimpan sebuah kenangan
            Terformat sebuah kepedihan
            Terungkap sebuah kejujuran

Ketulusan menjadi sebuahangan-angan
Belaian kasih merubah sebuah ketakutan
Karenamu wahai sosok wanita yang kubanggakan
Yang memberiku segudang pelajaran
Yang hingga kini selalu kubanggakan
Selalu kuimpikan…

            Dan tak 'kan pernah terhapus dalam kenangan
            Perkataan maaf akan selalu kuucapkan
            Atas segala kesalahan
            Perkataan terima kasih tak 'kan pernah terlupakan
            Untuk dirimu
Ibu
           


Kamis, 02 Maret 2017

Tuhan, Apa Salahku?

Termangu dalam kesendirian, menatap diri yang penuh noda. Dalam remang kehidupan diri ini bertanya, Apakah aku hidup untuk ternoda?
Tak ada lagi kata yang mampu terucap dari bibir pahitku, namun rasanya tenggorokan tercekik ingin memanggil nama-Mu, Tuhan.
.
Jika masa hanyalah sebuah penyesalan, mengapa mesti dihadirkan? Aku hanya mampu mengeja banyaknya tanda tanya yang mengepungku. Kemalangan hidup apakah sebuah derita atau sebuah cerita?
Apakah aku salah, Tuhan?
.
Apa salahku?
.
Salahkah aku?

Tidakkah benar hidupku ini, Tuhan?

Noda berbercak hitam menyelimuti diri ini. Amat pekat, Tuhan.
Membuatku bagai ditelan oleh gulita.

      Cemburu ...

      Aku cemburu, Tuhan!
Aku cemburu pada mereka yang Kau anugerahkan sinar terang benderang, sedang aku berpadu dalam kelam. Aku cemburu pada mereka yang Kauberi perlindungan rapat bagai diletakkan dalam peti emas yang mengkilap. Sedang aku terbuang bak buih-buih di lautan lepas yang terhampar.

Aku cemburu pada mereka yang Kau karuniai air penuh berkah yang jatuh menetes dari sudut matanya bagai butir-butir permata. Tidak sepertiku, yang meneteskan darah penuh nanah karena luka akibat dosa-dosa yang menikam.
.
Tuhan ...