Jumat, 22 Juni 2018

Kamu

Hal terpahit dalam hidupku, saat ini ...

Bukan karena aku kehilanganmu, bukan karena kau mencintai gadis lain selainku, dan bukan juga karena kau tak lagi peduli padaku. BUKAN itu!
Kau tahu perihnya?

Saat yang kita impi-impikan dari dulu adalah ketika kita bersama di atas singgasana suci, kau mengucap janji sakral di hadapan khalayak ramai, lalu kau katakan akan melingkarkan cincin di jari manisku. Sayang, rencana kita terlalu indah, hingga tangan Tuhan menjatuhkan takdir-Nya agar kita berhenti berencana seindah itu.

Tak mampu terlukiskan dengan kata-kata, tak sanggup kuutarakan sakit itu padamu. Kau mungkin hanya terharu mendengar kisahku saat ini, namun tidak untuk merasakan apa yang kurasa.
Tangan yang dulunya kuharap melingkarkan cincin pada jari manisku justru bukan milikmu, tapi tangan dingin orang lain. Gaun pengantin yang dahulu kuharap kau yang akan melepaskannya, ternyata diambil alih oleh lelaki lain.

Miris memang, ketika yang dicintai tak dimiliki. Yang diharapkan pada akhirnya tak bisa bersama, sedang hati masih dipenuhi oleh puing-puing perasaan yang semakin hari semakin berpadu dengan kerinduan. Tak mati, bahkan mungkin tak akan pernah mati

Dan kau tahu betapa tersiksanya aku di posisi ini?
Tak ingin menyalahkan apa dan siapa pun, sebab nyata ini adalah jalan hidup yang digariskan Pencipta untukku. Namun terlampau perih, bilamana wajahmu terngiang saat aku sedang berada di atas peraduanku bersamanya.

Gila memang, dan ini yang membuatku seperti manusia yang dipenuhi jelaga hitam memalukan, hatiku berdosa karena mencintaimu yang tak sepantasnya kucintai lagi. Pikiranku bersalah, karena mengenangmu dan semua tentangmu

Dan aku tak tahu ...
Apa kau mengerti atau tidak. Kau tak mengerti, itu lebih baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar