Rabu, 26 Juli 2017
Puisi untuk Ibunda
Kamis, 02 Maret 2017
Tuhan, Apa Salahku?
Termangu dalam kesendirian, menatap diri yang penuh noda. Dalam remang kehidupan diri ini bertanya, Apakah aku hidup untuk ternoda?
Tak ada lagi kata yang mampu terucap dari bibir pahitku, namun rasanya tenggorokan tercekik ingin memanggil nama-Mu, Tuhan.
.
Jika masa hanyalah sebuah penyesalan, mengapa mesti dihadirkan? Aku hanya mampu mengeja banyaknya tanda tanya yang mengepungku. Kemalangan hidup apakah sebuah derita atau sebuah cerita?
Apakah aku salah, Tuhan?
.
Apa salahku?
.
Salahkah aku?
Tidakkah benar hidupku ini, Tuhan?
Noda berbercak hitam menyelimuti diri ini. Amat pekat, Tuhan.
Membuatku bagai ditelan oleh gulita.
Cemburu ...
Aku cemburu, Tuhan!
Aku cemburu pada mereka yang Kau anugerahkan sinar terang benderang, sedang aku berpadu dalam kelam. Aku cemburu pada mereka yang Kauberi perlindungan rapat bagai diletakkan dalam peti emas yang mengkilap. Sedang aku terbuang bak buih-buih di lautan lepas yang terhampar.
Aku cemburu pada mereka yang Kau karuniai air penuh berkah yang jatuh menetes dari sudut matanya bagai butir-butir permata. Tidak sepertiku, yang meneteskan darah penuh nanah karena luka akibat dosa-dosa yang menikam.
.
Tuhan ...
Secarik Surat Untuk-Mu
Bersama senja
Kutuliskan kata indah untuk-Mu...
Tuhan
Yang tak pernah membatasi kasih sayang-Mu
Kutanya pada diri ini
Mengapa kiranya kau masih bergelimang dosa
Sedang Penciptamu begitu Pemurah padamu
Titik hitam pekat semakin bertambah
Menutup jernihnya hati yang menjerit
Mengapa tak kau hentikan langkah wahai jiwa?
Tak takutkah kau jika malaikat-Nya datang menghampirimu...
Merenggut dengan kejam nyawa dalam tubuhmu
Kumohon Tuhan,
Pada-Mu yang tak pernah lelah mendengar tangis
Pada-Mu yang tak pernah jenuh menerima maaf
Lembutkan hati ini, luluhkan hati ini yang telah lama membeku
Lunakkan jiwa ini yang begitu keras menerima ketentuan-Mu
Bawa diri ini dalam dekap kasih-Mu dan genangan ampunan-Mu
Agar dapat merasa bahagia karena cinta-Mu
Tentangmu ...
Kamu adalah deretan kata yang sedang berusaha kurangkai menjadi sebuah kalimat indah ...
Bagai menuai beribu tanya dalam memori kecilku, adakah jawab kan kutemui ...?
Dalam dekapan rindu yang tak berperi, dan dalam saratnya penantian yang tak berujung
Kegagalan rasa tak mungkin kan kuteruskan, sebab cinta itu semakin menikam
Sanggupkah kaumenahan perihnya belatih kehidupan dalam bui cinta yang terbebaskan dari tusukan mawar berduri?
Kurasa inilah akhir penantian yang sempat kusangka tiada ujung ...
Melati tersenyum merekah dalam taman lingkup cintamu
Apakah Dikau?
::
Semburat langit jingga di ufuk barat meluapkan suasana di ujung pengharapan.
Tak lama, jingga itu kemudian berubah menjadi hitam begitu pekat, begitu suram.
Dinding-dinding rumah menatap sinis. Langit-langit kecil tak lagi mau memandang. Sehingga aku memilih untuk menatap langit nyata.
Di sana nampak ribuan cahaya indah yang seakan mengedipkan mata ke arahku...
.
Hembusan angin begitu terasa,desiran pasir seperti membisik di gendang telinga dalam keheningan malam..
Ketukan hati seperti ingin menyapa hatinya
Mata bening kini semakin bening karena linangan mutiara bergelimang bagai butir-butir air hujan..
Seolah bercerita tentang hadirmu..."
_Dalam kerinduan
Kepergianmu
Senja begitu nelangsa
Mengukir kasih yang gelora
Alammu amat jendala
Yang terkadang membuat merana
Padahal keindahan mulai tertata
Bagai indahnya sang singgasana
Namun semua menjadi tiada
Lenyap..
Hingga membuatku nanap
Terpaku dengan hasrat yang telah terserap
Namun,
Hembusan angin yang membawa kesejukan
Mengantarkanku pada melodi yang tak bergeming
Hingga kumenerka bahwa
Aroma kasihmu semakin terasa
_Ulfa ar rifa`i
Terpaan Badai
Andi Ulfa Wulandari
Dalam tirisan penanya :
"TERPAAN DALAM BADAI"
Dalam kehidupan yang fana
Tak terdapat tanda dalam dada
Tak kutemukan jiwa yang tertata
Tak pula cerita yang berlandas fakta
Semua ibarat rekayasa
Seperti tipuan belaka
Yang meninggalkan satu tanda
Tanda suram, gelap tak berwarna
Tak pula secerca harap tertinggal di sana
Berharap setitik cela
Namun,
Tak seberkas cahaya yang tiba
Hanya ada badai yang kian melanda
Dalam sunyi senyap keadaan dunia
Meski terpaannya mengikis luka
Dan menitikkan air mata
Hingga akhirnya menampung duka
Tapi, tak ada kata bermuram durja
Kupandangi jagat raya
Ternyata ibaratkan fatamorgana
Sehingga timbul banyak tanya
Ada apa gerangan dengan pandangan mata?
Apakah semua memang tak nyata?
Ataukah jiwa ini yang mati rasa...
Tapi, tak jua timbul asa
Waktu akan berkuasa
Manghentikan...Membisukan...dan membungkamkan manusia
Hingga keadaan tersapu rata
Tanpa merana dan tanpa tawa
_Toari Kolaka
Menanti hadirmu
Dalam ruang kecil yang hanya terbias secerca cahaya itu, dia masih bersandar dengan tangisnya.
Terlihat luka yang begitu perih dari rona wajahnya dan bias matanya yang berlinangan air.
Aku menatapnya dengan rasa iba yang membalut disertai penasaranku terhadap cintanya yang begitu membeku pada lelaki yang tak jarang membuat dadanya sesak, entah karena rindunya atau karena perilakunya yang menyakitkan.
Tapi, aku mengejanya sebagai wanita yang sabar.
Sakit hatinya tak membuatnya berhenti untuk tetap memberikan cinta dan perhatiannya pada lelaki itu.
Oh, Tuhan...
Seajaib inikah titipan rasamu ini?
Hingga cinta itu mampu mengalahkan segalanya?
Suara itu ...
Tidak Tuhan, telingaku tak sanggup mendengar tangisnya,
namun wanita tegar itu tak bergeming dalam sakitnya,
tangannya yang bergetar meraih pena dan buku biru kesayangannya,
dia mulai mencoret di atas lembaran-lembaran putih yang basah karena tetesan air dari sudut matanya.
"... Andai kau tahu rasa ini, rasa ini telah hampir lebur karena sakit. Namun cinta membuatku kuat, namun komitmen membuatku bertahan. Andai kau tahu rasa ini, rasanya kau menyayat tubuhku dengan belati tajammu. Andai kau tahu rasa ini, betapa aku ingin kau tahu. Betapa aku ingin kau membelaiku dengan lembut, betapa aku ingin kau mencintaiku dengan cinta yang tak pernah datang hanya sesaat, betapa aku ingin kau menuai setiap kata janji yang kau umbar di taman hatiku kala itu.
Masihkah kau ingat? Kala jemarimu yang hangat menggenggam erat jemariku?
kala mata cokelatmu menatapku dalam? kala mulut manismu mengungkap kata yang tetiba menjadikanku bungkam?
Dengarkanlah bisikan sendu dari hatiku ...
Cintai aku dengan tulusmu, obati luka yang tersayat karena tuturmu kala kau marah itu, sebab hatiku telah lelah...sangat lelah, namun impian bersamamu membuatku bertahan ..."
Tersandung, aku benar-benar tersandung. Aku tenggelam dalam haru.
Betapa tidak, sedang goresan pena wanita itu membuatku tak mampu berkata.
Masih Tentang Rindu
::
semilir angin rindu lagi-lagi datang menghampiri setelah kurebahkan badan di atas pembaringan yang tak pernah jenuh menerima hadirku.
Mata sembab yang kian lelah ini tak mampu menyatu dengan pikiran. Benar-benar tak mampu.
Kusempatkan pandang untuk melirik sejenak pada arloji di atas tumpukan buku-buku yang kusam itu.
...Aku begitu keliru, pikirku waktu tak akan berjalan secepat ini. Namun nyatanya
ia menunjukkan pukul 02.30 dini hari.
.
.
"Aku tidur duluan "
"Iya, kamu jangan begadang. Besok pagi kamu berangkat kerja kan?"
_ Tak ada lagi alunan kata nan indah seperti dulu. Sapaan hangatmu pun telah terkubur dalam pusara asmara.
Percakapan 2 jam lalu kubuka dan kubaca kembali. Terus kubaca berulang-ulang hingga ke akar-akar resapannya.
Sedari tadi aku belum bisa menerka tentang gelisah ini. Seakan ada sehelai rindu yang membius.
Namun, sedari tadi pula aku membaca sikapmu yang berbeda.
Selaksa bahagia yang sempat kita rasakan beberapa bulan yang lalu, kini menjadi segenggam perih yang tak tahu kapan akan menjelma menjadi selaksa bahagia lagi seperti yang sempat terekam kala bahumu menjadi tempat sandaran terindah bagiku.
:
Ohh, apakah karena itu?
Apa benar karena hal itu?
Ya, Sepertinya kali ini aku tak salah.
Seonggok perubahan yang hampir menyekikku itu sepertinya karena aku jauh..
sepertinya karena tekanan rindu yang kau dan aku tak mampu mencegahnya. Dan sepertinya karena rasa takut yang kian detik kian menusuk.
Aku ada,
Aku tak pernah pergi, cintaku pun begitu.
Aku maafkan segala lelahmu hari ini.
.
.
Dan biarkan kita ....
Kau dan Aku memupuk rasa untuk kita buraikan saat waktunya tiba
_AAA
@Ulfa ar rifa'i
Pada-Mu, Cinta
:: TUHAN ::
Kembang tanjung yang harum
Jatuh ...
Telah jatuh di pangkuanku
Kutusukkan dan kurangkaikan
Untuk menghiasi dan mengharumi ruang hidupku
Angin sejuk
Tiuplah ...
Taburlah ...
Agar semerbak mewangi
Agar kesejukan tumbuh di relung hati
Karena aku telah lama menanti
Tuhan,
Kembang itu adalah hidayah-Mu
Hidayah yang kini menghampiriku
Memberi selaksa ketenangan dalam jiwaku
Membuka jalan bagi pikiranku
Agar dapat sampai pada tujuanku
Agar senantiasa merasa damai di sisi-Mu
Inilah rasa yang kian berpadu
Berpadu dengan indahnya kasih-Mu
@Ulfa Ar Rifa'i
_Toari Kolaka
The power of love
~~
Sapaan lembut itu kembali meremukkan batinku yang mulai mencoba untuk melepaskan jeratan cinta yang selama ini membelenggu.
Di saat hatiku benar-benar telah yakin akan kehilanganmu,
Wahai Makhluk Tuhan yang telah menarik hatiku akan keindahan cintamu.
Mengapa kau selalu kembali di saat aku mencoba ingin pergi dari dunia cintamu?
Sekali kau menyapaku, mungkin aku tak akan menoleh. Namun lebih dari itu, aku pasti akan menoleh ke arah suara yang kudengar. Akan tetapi, saat kupastikan bahwa suara itu adalah milikmu, seketika itu pula akan aku alihkan pandang darimu.
Agar tak berlinang mata ini saat menatap matamu.
Meskipun begitu, hati hati dan pikirku tak pernah henti mengajukan tanya,
"
"Masih adakah cinta dan kepedulian disana?"
Mungkin pertanyaan itu begitu konyol, tapi hatiku tak bisa berhenti untuk bertanya.
Bagaimana mungkin aku bisa mengukur seberapa besar tingkat kepedulianku padamu?
Sedang Menara Eiffel pun tak seberapa jika dibuat suatu perbandingan, bahkan kalkulator kalkulator pun tak mampu menghitung jumlah kasih sayang itu.
Tapi, mengapa setitik kepedulian pun tak terbesit dalam hatimu?
~ Apakah aku salah menaruh rasa padanya, Tuhan?
Apakah Kau menerima maaf dariku, Tuhan?
Aku yang selalu saja memikirkan sebuah nama sesosok pria yang biasa-biasa saja namun membalut jiwa yang luar biasa seperti ini?
::
Untukmu Wahai Makhluk Tuhan yang cintanya tak nampak, bagaimana mungkin kau mampu mengikat hatiku sekuat ini, sedang dirimu baru saja mendapat jejakku?
Kekuatan apa yang kau kerahkan, sehingga kau mampu memecahkan hatiku?
Sungguh, aku takjub dibuatmu!
Padahal kau sama sekali tak terlihat seperti malaikat. Tapi mengapa hadirmu begitu penuh kehalusan?
Derap langkahmu kian mendekat.
Hembusan nafasmu kian terasa. Suaramu kian berdengung di telingaku.
Namun, hatimu terasa jauh.
Mengapa aku mesti takut kau pergi meninggalkanku bersama benih-benih cintamu?
Sedang Tuhanku tak pernah meninggalkanku
@Ulfa Ar Rifa'i
Tirisan Pena
#Tirisan_pena
Senada dengan melodi mimpi yang indah.
Ombak pun tak akan menampakkan amukannya.
Hanya menyapamu dengan lembut, lalu melambai pergi bersama buih yang terhampar
Kelabu yang membisu bahkan kian bisu dan membungkam.
Tak tahukah kamu Wahai Bugenvil? bahwa taman itu telah hampir musnah tertelan waktu.
Meski terlihat mendung menaunginya. Namun gemuruh rasa menerkam secara perlahan, bak belati yang menyayat indra yang peka.
Pekikan jiwa dan nalar tajam dunia mengikis angan dalam semenanjung harapan.
Mengharap rangkulan tangan Sang Penguasa
Untuk menopang jiwa yang lemah
Sejatinya,
Tak ada pelangi tanpa hujan. Akibat pun hadir karena sebab.
Maka resapilah karunia-Nya
Cinta penuh tantangan
~~
Gemuruh rasa belum sempat kubendung. Begitu rumit untuk kutikam gelisah ini. Serangkaian peristiwa membuat kita terpisah dan meninggalkan sesak di hati.
Lautan menjadi saksi bisu atas tangisku yang pecah saat meninggalkan kota itu. Kota metropolitan yang kau dan aku selalu bersama menyusurinya.
.
.
Segala rencana telah tersusun rapi dalam diary kita. Bahkan langkah demi langkah telah kita coba untuk lalui bersama.
Untaian janji yang kau ucap menyelinap masuk di telingaku, merambat hingga saraf-saraf otakku, yang membuatku yakin dan tak pernah luput untuk mengenangnya.
Namun, segala keindahan yang sempat kita tuai harus berbalas dengan pedih yang menikam.
"Kamu terlalu bodoh. Perasaan telah membuatmu buta. Apa kamu pikir menikah segampang itu? apa kata orang-orang kampung nanti jika kamu menikah di usia muda dan kuliahmu pun belum usai. Kamu pikir lelaki seperti dia yang kuliahnya juga belum usai mampu menghidupi kamu?"
_ Sentakan ibu menggelegar bagai petir di telingaku.
"Aku telah yakin dengan pilihanku, Bu. Dia bukan lelaki yang seperti ibu pikirkan. Saat ini pun dia sedang berusaha bekerja agar bisa mengumpulkan uang untuk kuliahku nanti".
"Kamu terlalu mudah untuk percaya. Kamu saja belum memiliki pekerjaan tetap. Laki-laki itu akan menginjak-injakmu dan mencari wanita lain ketika dia mulai bosan. Yah terserah kamu. Yang mau menjalani kamu. Tapi ingat! Jangan pernah datang dan meminta tolong pada kami".
.
.
Perkataan ibu kian menusuk, hingga aku tak mampu menyembunyikan tangis yang seketika itu berderai di hadapan ibu.
:: Telah lama aku jauh darimu, jauh dari menatap mata coklatmu yang selalu membuatku ingin mengukir senyum.
Betapa hati dipenuhi sesak akan rindu.
Rindu ketika kau menjadi pendengar setiaku kala aku sedang membaca atau bercerita tentang hidup ini, kau begitu menikmatinya. Hingga serasa aku sedang menyiarkan siaran lagu di studio cinta favoritmu.
.
.
Apa aku dan kau salah ketika memilih untuk memadu kasih di singgasana suci?
Hampa
~Coretan Hampa
Telah kuhadirkan segala kenangan
Telah kuhimpunkan segala asa
Disertai harap pada Tuhan
Agar memberi penerang dalam kelam
Kehampaan,
Ah, begitu menggetarkan dada
Pun tak tahu,
Apakah hembusan nafas `kan tetap terasa di penghujung malam?
Ataukah hembusan itu `kan terhenti, saat hati dan laku tak berperi?
Coretan hampa,
Untuk mengungkap perihnya luka,
Sebab tak mampu tersirat
_AAA#FasyahUlfaArRifa'i
Untukmu, Ayah
Tirisan pena Andi Ulfa Wulandari
~~UNTUKMU~~
Mengingat dirimu ...
Ayah,
Berkobar semangat dalam diri
Untuk meraih mimpi
Dan menemukan jati diri
.
Kasihmu mengiris sepi
Pengorbananmu tak terganti
Wajahmu yang berwibawa masih terpatri
Seakan impian kian menanti
Ayah,
Impianku tak setinggi pengorbananmu
Usahaku tak sebesar kerja kerasmu
Pendirianku tak sekokoh hatimu
Dan, pikirku tak sejernih nalarmu
.
Oh, Ayah ...
Betapa sering kugores kecewa di wajahmu
Betapa aku sering membuatmu murka
Betapa aku sering menampakkan putus asa
Bahkan aku sering bertindak tak mengaca
.
Seharusnya aku berkaca ...
Berkaca pada setiap peristiwa
Dan belajar dari kesalahan dahulu kala ...
Kala hati belum tertata
Serta logika belum mampu membaca ...
Membaca kehidupan yang bertanda fana
Kini,
Aku tak tahu lagi
Kini,
Aku merasa sepi
Saat Ayah tersakiti ... Hidup pun sulit kujajaki
~AUW~
Be Patient, please
~
Denyut nadi semakin melambat, detak jantung hampir tak bernada, hembusan nafas tak sesegar hari-hari kemarin.
.
Perasaan seakan bergetar, bagai getaran gempa tektonik. Kesabaran semakin sulit 'tuk dipertahankan. Amarah menggemuruh, bagai suara petir yang menyambar.
Namun, logika berusaha menghentikan.
Nalar pun mencoba 'tuk memborgol. Meski naluri menjerit kesakitan.
.
Inilah bagian dari dampak peluapan kezaliman. Mengalir begitu cepatnya, membuat ricuh suasana, dan menghancurkan ketenangan. Bagai luapan lumpur lapindo.
Ketajaman sorotan mata cokelat yang nanap, dari seseorang yang tersakiti kepada seseorang yang menyakiti, semakin menusuk.
Genggaman tangan semakin erat.
Dada yang berapi semakin membara.
Meskipun hasrat ingin menerkam. Namun, pikiran jernih masih dapat menetralisir.
.
Oh, tidak!
"Jangan biarkan nafsu menggerogoti iman di dadamu. Kumohon, jangan beranjak dari kesabaranmu!" bisik hati dengan lembutnya.
Ada Apa Dibalik Kidung
Ada Apa di balik Kidung?
Terista telah merajai hari
Setelah tawa selincam pergi
Oh, muslihat terindah bumi
Kau merajai namun tak berperi
Jendala kian menyebar tanpa henti
Harus kuapakan asa yang telah mati?
Sedang kasih pun enggan bersemi
Hanya ada kidung yang berapi
.
Tidakkah kau dengar rintihan hati ini?
Hati yang sedari dulu tak kaupeduli
Hanya angkara yang menemani sepi
Hingga takdir mengakhiri
Penantian di ujung serambi
Sungguh, niat suci kian terpatri
Adakah kasih 'kan kutemui?
Negeriku Dirundung Mendung
NEGERIKU DIRUNDUNG MENDUNG
Created by: Pak Najmun
(dipentaskan oleh Andi Ulfa Wulandari)
Mendung kini menutupi negeriku yang dulu anggun
Negeri yang dahulu kesejukan berhembus dari ujung timur dan barat
Negeri yang harum semerbaknya membumbung ke angkasa
Meski dibangun di atas genangan darah dan air mata
Tengoklah kawan!
Mendung itu kian meremuk raut negeri ini yang dulu anggun.
Menusuk, menghujam jantungnya dengan belati kemunafikan
Tikus-tikus tak ketinggalan menggerogoti tubuhnya yang letih tanpa ampun
Hingga langkah kakinya kian sendu, bahkan nyaris tersungkur
Tidakkah kaudengar kawan?
Teriakan rumpun bambu yang memekik ...
Mengingatkan kita tentang moyangnya yang dahulu dijadikan senjata?
Ataukah telinga ini telah tertutupi dengan bualan para pendusta yang menyebut dirinya pemimpin?
Pendusta yang tega menindas, merampok, dan menyumpal mulut-mulut rakyat dengan kehidupan yang pelik
.
Tidakkah kaudengar rintihan negeri ini, kawan?
Yang meringis lantaran tubuhnya tercabik oleh putra-putrinya sendiri
Korupsi, suap menyuap, telah menjadi suguhan sehari-hari
Lupakah engkau, kawan?
Akan teguran Sang Maha Pencipta
Yang dulu meluluhlantakkan semenanjung negeri ini.
Kemana nuranimu kawan?
Kemana pekikan takbir?
"Allahu Akbar ...! Allahu Akbar ...! Allahu Akbar ...!"
Yang pernah membakar semangat
Membungkam segala kemungkaran
.
Renungkanlah sejenak, kawan!
Negeri kita kini dirundung mendung
Tersayat beribu badai
Padahal dahulu, negeri ini dibangun di atas darah dan air mata
Ayo, bangunlah kawan!
Sebab di tangan kitalah cahaya yang akan menyibak mendung itu
~~poetry for my country
When you hurt
~
Angin malam kian menghantam, deras hujan kini semakin terdengar. Dari bilik jendela, wanita itu terlihat kaku, seakan dia meredam pilu.
Senyum yang sempat terukir di wajahnya kini tak terlihat lagi.
Tak mampu aku menerka ada apa di balik kemurungannya.
Namun, seakan cinta kembali menjadi lambang kesedihan itu.
.
Cinta?
Ada apa dengan cinta? Teramat dalam luka yang digoresnya. Namun, tiada ada kutemui benci di wajahnya.
.
Dia masih terpaku, diam seribu bahasa ... Mungkinkah aku mengembalikan ceria itu di wajahnya?
~~
"Mengapa tak kausadari kasih sayangku padamu?" kini terucap kalimat dari bibirnya yang basah karena hujan yang jatuh dari sudut matanya.
Aku baru mengerti, bahwa dia sedang kecewa pada cintanya, namun cinta itu lebih besar dari rasa sakitnya
#fasyah
Sajak Rinduku
SAJAK RINDUKU~
Goresan pena Andi Ulfa Wulandari
Dalam jeruji iman ...
Mengetuk pada pintu lamunan
Berharap tak lagi dalam bui khayalan
Meski terekam banyak rintangan
Namun, yakin akan ada kebahagiaan
Bahkan di saat yang mencengangkan
.
Selama hati berada di tangan Tuhan
Selama langkah tetap berjalan
Selama mimpi tak sekedar impian
Semua akan berubah kenyataan
Seperti apa yang dinantikan
Sebab yang sejati tak mungkin tergantikan
.
Inilah yang mampu kutuliskan
Sehingga rasa tak hanya dirasakan
Dan masa tak hanya menjadi kenangan
1402'17
#Fasyah
Dimana Kau Titip Rindu
Dimana kautitip rindu?
Apakah pada lembar lembar dedaunan kering kautitipkan rindu itu?
Ataukah kautitip pada rinai hujan yang menetes?
Dimana kautitipkan rindu?
Apakah pada tangkai mawar yang berduri?
Ataukah pada desir pasir yang menghampar?
Dimana kautitipkan rindu ...?
Apakah pada malam yang kelam?
Atau ... pada angin yang berhembus?
Dimana kautitipkan rindu?
Apakah pada sujud sujud di penghujung gulita ...?
Dimana kautitipkan rindu ...?
Mengapa tak kutemukan rindu itu ...?
~AUW~
Sang Belati
Sang Belati
Sejauh kita melangkah
Selalu beriringan dalam arah
Kuberi kau kepercayaan
Kuberi kau ketenangan
Selagi kumampu
Namun,
Kau yang kuharap, kini ...
Kukenal sebagai penggarap
Kau menggarap harapanku
Kau menghapus kepercayaanku
Kupikir ... kau yang akan membelaku
Saat lawan di depan mata
Namun yang terjadi tak sesuai yang kunanti
Sunyi senyap keadaan dunia
Menyaksikan kekejamanmu
Sang belati!
Tajam pedis luka yang kau goreskan
Hingga tak mampu aku membendung lelahan darah yang mengalir deras akibat ulahmu ...
Tak pernah terlintas dipikirku
Bahwa kau yang begitu kukenali
Kini,
Begitu kusesali ...
~AUW
Jumat, 24 Februari 2017
Mendung
Setelah mendengar cerita Rara, mindsetku seketika berubah, aku tak lagi berniat untuk mengenal Yudi lebih jauh. Ketika kecewaku pada Yudi membumbung, tetiba seseorang datang dengan penuh perhatian padaku, saat itu aku dan Wawan juga tak lagi ada komunikasi, semenjak Wawan kembali ke Malaysia kami memang tak l7agi saling menyapa. Ya, seperti itulah aku, sangat mudah dikuasai oleh rasa jemu.
Kehadiran seorang seniorku bernama Rudi membuatku sedikit lebih betah di penjara suci itu.
Rudi memiliki pribadi yang lembut dan sangat perhatian, selain itu dia juga cerdas dan manis, terlebih ketika doa tersenyum, gigi gingsulnya membuatnya lebih tampan. Hm, mendeskripsikannya hanya membuatku tersenyum sendiri, sebab jika mengingat tatapan matanya rasanya aku selalu ingin tersipu. Kami sangat akrab, mungkin karena kami memiliki hobby yang sama, Rudi juga sangat suka membaca sama sepertiku. Tak jarang kami saling sharing mengenai buku-buku yang pernah kami baca.
Entah ada angin apa, aku merasa nyaman dengannya. Padahal sebelumnya, aku juga pernah mendaptkan perhatian penuh dari seorang Jendz. Mungkin, ini yang namanya cinta?
"Rei ...,!" sapa Rudi dengan lembutnya
"Iya, Kak. Ada apa?"
"Rei ... Uhibbuki" Dia mengucapkan kata itu? Bahwa dia mencintaiku? Aku benar-benar bingung harus menjawab apa.
"Hehe, lebay banget sih Kak, pake bahasa Arab segala."
Hubungan kami semakin hari semakin akrab, namun waktu kini menyambut, telah saatnya Rudi melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Mengingatkan aku dengan hubunganku dengan Jendz yang berpisah karena jarak, bedanya dengan Rudi aku ingin menjalin hubungan yang serius.
**
Rudi melanjutkan kuliah di Sukabumi, sebelum berangkat, Rudi sempat berkunjung ke rumah dan memberiku sebuah bingkisan yang sangat indah.
"Rei, jaga diri yah! Aku janji akan kembali suatu saat dan segera melamarmu. Tunggu aku kembali Rei." Ucap Rudi padaku pada hari terakhir kami bersua.
Langit seketika mendung, kurasa hujan jatuh dari sudut mataku. Entah, mengapa baru kali ini aku merasakan hal demikian, padahal telah banyak lelaki yang kukenal sebelum Rudi.
Terliahat Rudi mengukir senyum padaku, senyum yang sangat indah, sembari berjalan mundur dari hadapanku.
** Sudah setahun Rudi meninggalkan aku, dan berjuang meraih impiannya di kampung orang. Rudi tak pernah mengabariku, karena di asrama tempat dia tinggal tidak membolehkan mahasiswanya menggunakan ponsel. Rindu ...? Iya, aku sangat rindu pada suaranya yang lembut, dan tentu juga pada perhatiannya. Aku lebih sering menyepi setelah Rudi tak ada, namun entah mengapa Yudi selalu mencoba mendekatiku kembali, apalagi sete.ah pemilihan jurusan, aku dan Yudi sekelas di sscience programe.
"Rei, kamu kenapa dingin banget sama aku?" tanya Yudi pada suatu hari, ketika jam pembelajaran telah usai.
Tanpa menjawab pertanyaan Yudi, aku berlalu hendak keluar dari ruang kelas yang hanya ada aku, Yudi dan seorang temannya.
"Rei ... Kamu habis nangis yah? Kamu masih mikirin Rudi yang udah jauh di sana?"
"Aku nggak apa-apa!"
"Sekarang aku mau ngajuin pilihan ke kamu, Rei. Kamu pilih aku atau dia?" Tetiba aku dikagetkan dengan pertanyaan Yudi.
"Aku pilih dia, aku pilih Rudi, Yud. Berhenti menghalangi langkahku, aku mau pulang sekarang ...!" Dinding-dinding dalam ruangan itu seakan bergoyang, lantai tempatku berpijak terasa bergetar, sama seperti perasaanku yang sedang kacau kala itu.
Yudi terus berusaha mendekatiku, dan mengumbar kepada teman-temannya bahwa aku adalah kekasihnya. Tak kusangka, gosip itu menyebar amat luas dan mengalir begitu cepat sampai ke telinga Rudi, aku tak tahu siapa yang telah menyampaikan semua itu pada Rudi.
Hati masih setia dalam penantian, berharap yang dirindu segera hadir ... Rasanya telah lama tak lagi bersua, sudah 4 tahun berlalu senyum itu tak lagi nampak di mataku. Rudi hanya mengabariku sekali dalam setahun, maka tak heran jika gelisah semakin menerkam.
Selama kepergian Rudi, ada tiga pinangan yang tak kuterima, alasan yang amat tajam bagiku adalah tak lain karena aku masih menunggu Rudi. Masih terbayang janji-janji manis yang terucap dari bibir tipisnya, sehingga berat rasanya untuk menerima lamaran orang lain. Tak jarang aku menuliskan tentang Rudi, dia selalu menjadi objek puisi maupun prosa yang kutuliskan di lembaran-lembaran diary. Sejujurnya, aku sering mendapati tulisan-tulisan Rudi di wall facebook miliknya yang bercerita tentangku, apa aku yang begitu kepedean ...? Ah, mana mungkin sebab tagar penjelas di sudut bawah tulisan Rudi mengarah padaku. Tak jarang kudapati tanda bertuliskan SHMILY setiap kali dia mengepost. Ya, tanda itu sering Rudi ucapkan padaku beberapa tahun lalu, "See How Much I Love You" demikianlah Rudi bertutur.
Tapi, mengapa dia tak pernah menyapaku? Marahkah dia? Atau aku tak lagi ada di hatinya ...? Bahkan aku tak tahu menahu mengenai keberadaannya.
Perasaan terasa tersiksa, aku tak lagi mampu menahan gejolak rasa yang hadir, kuberanikan diri menghubungi sebuah nomor yang tercantum di fecebook miliknya.
"Assalaamu'alaykum ..."
"Wa'alaykumsalam, dengan siapa yah?" Terkejut aku mendengar suara seorang wanita yang menjawab teleponku, mungkin aku keliru memencet tombol, pikirku.
"Maaf Mba, mungkin saya salah nomor. Kirain ini nomor Kak Rudi."
"Loh, nggak salah kok Mba. Ini memang nomor handpone suami saya, kami tukaran handphone dulu beberapa hari ini Mba. Memang nama Mba siapa? dan ada perlu apa? siapa tahu saya bisa bantu." Seketika pandanganku suram, mataku tak mampu diajak berkompromi,namun aku tetap berusaha menutupi kesedihan agar wanita yang mengaku istri Rudi itu tak tahu tentangku.
Rasanya tak percaya dengan semua ini, janji-janjinya yang dulu hanya untaian kata palsu yang sempat dia tuturkan padaku.
Kamis, 16 Februari 2017
Separuh Sayap Yang Hilang
:: sshhhhhh.....
Angin menghampas begitu kerasnya di keheningan malam, langit ikut serta menjatuhkan airnya ke bumi dengan leluasa.
Malam ini, hujan menemani wanita itu dalam lamunannya tentang separuh sayap hatinya yang nun jauh di sana.
Separuh sayap itu semakin hari semakin berubah, warna cintanya seakan memudar, entah karena jarak ataukah waktu. Seperti itulah persangkaan wanita 18 tahun itu terhadap separuh sayap hatinya yang jauh di sana.
Wajahnya semakin lesuh, pipinya yang dulu berisi kini semakin mengempis, daging_daging di tubuhnya hampir tak terlihat lagi, kulitnya pun semakin tipis...
"Aku tak mampu membendung sesak ini. Aku tak mampu. Sungguh.." ungkapnya berusaha membuatku mengerti.
"Dia begitu misteri bagiku. Mencintainya dan kesabaran adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan"
:: Cinta benar-benar masih berkuasa atas segalanya. Dia memilih tetap bertahan dalam luka.
Tak peduli seberapa indahnya tawaran permata di luar sana, bahkan tak peduli dengan sapu tangan yang disodorkan oleh pria lain untuk membantunya menyeka air mata yang jatuh di pipi merahnya..
Aku tahu,
dia sangat merindu separuh sayapnya di sana
-AAA
Masih Tentang Rindu
~Kasih Yang Tak Usai~
Oleh: Andi Ulfa Wulandari
Aku menatapmu, Kasih
Kau termangu di tepi telaga yang mengisahkan tentang rindu, hilang ... tak tahu rimbanya
Kasih, langkahku kian sendu, parasmu membuatku nanap dalam pilu
Telaga asmara yang meredam janji-janji suci, meluluhkan harap yang dahulu membeku di alam mimpi
Sama sepertimu ... aku adalah dirimu, Kasih
Yang menyerana di atas kubangan nestapa
Masihkah terekam di benakmu ...?
Kala jemariku melepasmu di dermaga biru ...
Aku adalah dirimu, Kasih
Yang menyepi dengan netra berurai air mata, mengenang kisah sepasang insan yang terlerai oleh takdir
Sadarkah, Kasih ...?
Lautan lepas menyudutkanku dari pandangmu ...
Aku tak kuasa memecah takdir Ilahi yang telah menyerkah janji-janji di penghujung penantian
Kasih,
Nelangsa menjerat ... kala melatiku kian merekah, namun bayangmu pun tak kunjung jumpa
Tidakkah kau rindu pada kuncupnya yang indah ...?
1602'17
Rabu, 15 Februari 2017
Wonua Mekongga
~Hujan Jatuh di Bumi Mekongga~
Oleh : Andi Ulfa Wulandari
Hamparan hijau membentang luas ... bagai permadani di atas tanah basah di sudut bumi Mekongga
Kulayangkan pandang ke arah barat, terbentang ...
Pun terbentang hamparan laut biru yang bahari
Butiran pasir putih memperelok rupa sang laut lepas
Sepoi angin membawa alunan nan syahdu
Ombak menggulung sembari mengikis mangrove di tepian pantai
.
Wonua Mekongga ...
Tanah klasik yang menghadirkan selaksa rindu
Di sisimu terlihat deretan pulau yang mengapit, gunung-gunung nampak kokoh menjadi pasakmu, disertai rerimbun hutan yang menyelimuti tanahmu
.
Hujan Februari yang mengguyur, menambah kepermaian di Bumi Mekongga
Pelataran padang luas di Bende, nampak segerombolan anak manusia yang menyerukan prosesi "mekindoroa"
.
Oh, Wonua Mekongga ...
Butiran hujan ikut terjatuh di pipi
Terbayang beribu sumpah serapah di tanahmu
Terbayang percikan darah di kolong langit
Di balik elok rupamu, tersirat sepenggal sejarah yang mengikis kalbu
Wonua Mekongga ...
Izinkan aku selincam menikmati rupamu
Sebelum langkahku sebentar lagi 'kan beranjak
Kau, negeriku ...
Mekongga yang basah oleh harapan
Yakinlah, rinduku suatu saat 'kan menyapa
1502'17
Selasa, 14 Februari 2017
Je t'aime
Alunan indah itu ... kembali terekam di telingaku, saat badan telah kubentang di atas pembaringan. Selaksa rindu menyapa di keheningan malam. Mungkinkah karena hati sudah tak sanggup ingin memburainya?
Aku terpikat oleh segala sisi yang ada pada dirimu. Pemilik hatiku mengantarkanku agar belabuh di pelabuhan milikmu. Tetiba bibirku mengukir senyum, ah ... aku sedang berangan akan hadirmu seperti hari-hari yang lalu. Kenangan itu menghantuiku, masihkah terlintas di pikirmu tentang kita?
.
Saat jemarimu menggenggamku erat, seolah kau tak ingin aku pergi. Masihkah teringat olehmu? Saat tanganmu menyuapiku dengan lembutnya? atau saat kau letakkan kepalaku di atas dadamu sembari jemarimu mengelus rambut panjangku hingga aku tertidur pulas di sisimu?
Aku sangat merindu segala tentangmu ... Kita bersama mengukir cinta di atas lembaran-lembaran hari. Lautan lepas memisahkan raga kau dan aku, namun hati terasa jauh lebih dekat ketika rindu menikam. Entah harus tersenyum, atau menangis, sebab rindu sebagai pertanda masih adanya cinta. Namun, rindu itu juga amat pedih kala menyapa.
::
"Je t'aime ..." Aku berucap dalam kesendirian pada ruang remang sembari mengeja tiap kenangan denganmu. Menatap thuts-thuts putih di hadapan mataku, seakan menatapmu dengan begitu dekat. Bahkan langit-langit kamar pun tahu, tentang resahku yang selalu mendamba pertemuan dengan rindunya yang jauh di sana. Kalender dalam kamar ini tak mau melirikku, sebab aku selalu saja mencoret coretnya dengan tinta merah. Aku lelah, menatap tanggal yang kemudian selalu kucoret karena penantianku tak kunjung berakhir. Apakah kau bisa mendengar rerintihan kalbuku?
Stay with me, please my Bougenvillea
~
Melati kini merekah, namun bugenvil nampak layu ... telah kupupuk dengan ketulusan, dan kusirami dengan kesetiaan. Namun, tak jua berdiri tegak ... bugenvil seakan kering tak mampu bertahan.
Tirisan air hujan pun tak jarang mampir, namun entah ... ada apa dengan bugenvil. Mungkin ...
akarnya tak lagi kuat menanggung beban
Mungkin ...
Bugenvil tak mau bersanding dengan melati di hamparan taman sederhana itu
.
Semilir angin berhembus, sssssshhhhhh ....
Oh, tidak! angin itu hampir merobohkan bugenvil yang semakin rapuh. Hampir saja kepingan serbuk sari dia terbangkan, melambai di sudut mata ...
Apakah angin tahu tentang rindunya yang hilang tak tahu rimbanya? ataukah ...
angin tak senang memandangnya bersama dengan melati di taman itu?
.
Ah, sudahlah! aku tak ingin menerka. Aku tak akan berhenti untuk memupuknya, jikalau bugenvil telah kering dan tak mampu bertahan, biarlah taman itu dipenuhi melati tanpa bugenvil di sisinya
_1302'17#fasyah
Cinta Tak Berperi
~~Tak Berperi~~
Hanya segenggam pengertian pintaku ... Namun hatimu bak karang di lautan, apa daya diri ini? sedang kelembutan sutra kau enyahkan.
Bukan aku tak mampu bertahan, namun hatimulah yang perlu dipertanyakan. Api angkaramu hampir saja melahap habis puing-puing kepedulian yang masih tersisa. Entah, harus dengan apa hatiku menyapa hatimu.
Kau yang menancap duri, namun imbas kauberi padaku. Kau yang menanam perih, namun segala salah kau tujukan untukku.
.
Hatimu tak berperi meski bersayap ... Kau gemakan kata dalam ruang angkaramu yang tercekik oleh makhluk yang dilaknat Tuhan.
Kau ...
Membiarkan lelehan darah menetes tanpa iba di hatimu sedikit pun. Aku tak tahu ...
Sungguh, aku tak tahu.
Aku tak tahu bagaimana mengungkap kata yang terselubung pada nalarku. Mulutku terasa bungkam 'tuk bersuara, sebab bagimu, tiap untaian kataku hanya ibarat debu yang tersapu angin.
.
Jemariku terasa kaku 'tuk menuliskan separuh harapku padamu, sebab tumpukan pesanku pun tak jua kau sudi menengoknya.
Hatiku mendesah ... lelah menahan sakitnya luka yang menggores dengan kejamnya. Namun, Tuhan membisikkan kalimat indah padaku ... Sejenak aku membisu, terpaku mendengar indahnya lantunan kalam Tuhan.
.
Kini, kutemui jawaban dari sekian banyak tanda tanya yang mengendap di otakku. Yah, Dia sedang berbicara padaku perihal kehidupan. Bahwa Dia mencintaiku, Dia hanya ingin menggugurkan dosa-dosaku yang menghampar bak buih di lautan, untuk itu Dia memintaku bertahan dalam kesabaran.
1402'17
Senin, 13 Februari 2017
Luka dalam Bui
***
Sungguh, kehendak ibu tak kuasa kusanggah. Segala keinginan ibu harus menjadi keinginanku secara paksa. Setamat SMP, ayah telah berencana untuk menyekolahkanku di sebuah Sekolah Menengah Atas yang berstandar internasional atau biasa disebut International High School.
Namun, ibu lagi-lagi tak sependapat, aku malah disekolahkan di sebuah pesantren yang terletak kurang lebih 8 kilometer dari jalan raya. Kali pertama aku menginjakkan kaki di kampung itu, aku kaget bukan main, ibu membawaku sekolah di hutan. Tidak sampai di situ, setelah membuka pintu mobil, aku dikagetkan lagi dengan cowo-cowo yang celananya pada tergantung, "Nih tempat habis kebanjiran apa?" pikirku.
Ternyata cewe-cewe di tempat itu tidak kalah seramnya, kawan. Jilbab mereka berwarna hitam, panjang x lebar. "Semua pakai kaos kaki lagi, macam mau ke sekolah saja sore-sore begini,"
~~
Aku merasa risih, bagaimana tidak, sedang hanya aku yang berjeans ketat, baju kaos ketat dan sehelai kerudung persegi tipis yang kuletakkan begitu saja di atas kepala.
"Ibu benar-benar ingin memenjarakanku di tempat seperti ini.
Ah, aku harus apa lagi? Di penjara ini tak ada listrik, hanya ada genset yang dinyalakan dengan durasi waktu terbatas, nyalanya pun sangat payah, hanya membuatku semakin mengantuk."
Sungguh, kesabaranku benar-benar diuji. Aku tak biasa dengan kehidupan seperti itu, ditambah dengan begitu banyak aturan yang menekanku.
"What ...? hp juga tidak boleh?" aku tersentak ketika peraturan pondok itu mulai dibacakan oleh seorang senior.
Hari-hari kulalaui tanpa sebilas senyum di bibir, banyak yang membenciku sebab aku tak pernah membalas senyum orang lain jika mereka tersenyum padaku, sikapku sangat dingin terhadap mereka. Bagaimana tidak, rasanya aku belum siap menerima keputusan ibu yang menempatkanku di tempat seperti itu. Bahkan, aku adalah cewek yang dijuluki judes oleh teman-teman di pondok, ini pengakuan mereka yang tak jarang mampir di telingaku.
**
Pengalaman pertama aku belajar di sekolah itu, dan untuk pertama kalinya aku mengenal bahasa Arab. Jujur, air mataku seketika terjatuh saat proses belajar mengajar berlangsung, aku mengutuk keadaan hingga aku tidak berniat lagi mendengar penjelasan Pak Ustadz yang tak bisa kuserap sedikit pun, aku benar-benar kaku dalam bahasa Arab, hingga di awal semester buku tugas bahasa Arabku penuh coretan tinta merah, tentu karena jawabanku hanya segilintir yang benar.
Sekitar 3 bulan aku menjalani hidup di jeruji itu ...
Suatu senja saat aku sedang berada di perpustakaan sekolah, dari arah jendela melintas seorang lelaki yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku hanya merasa aneh, sebab matanya menatapku lama. Ah, apa peduliku.
Hari-hari berlanjut, lelaki aneh itu kini lebih sering menampakkan diri di hadapanku, entah sengaja atau apalah namanya.
"Yudi ..." teriak seorang santriwati dari serambi mesjid.
Kala itu aku sedang menjalani hukuman ; mencabut rumput di halaman mesjid karena aku melanggar tidak shalat berjamaah di mesjid, sempat kuarahkan mataku kepada sosok yang namanya dipanggil tadi.
"Ohh, dia. Itu toh namanya" ucapku seraya mencibirkan bibir. Lelaki tu yang kutemui beberapa hari lalu di perpustakaan.
Alih-alih ternyata dia adik dari seorang santriwati seniorku, dan cucu dari pendiri yayasan pesantren itu. Huh, aku tak pernah mencari tahu tentangnya, hanya saja berita datang sendiri menghampiriku melalui para santriwati yang sering menceritakan lelaki itu, hufft.
Entah ada angin apa, tetiba laki-laki itu ingin meminjam buku mata pelajaran fisika milikku melalui kakak perempuannya, karena merasa tidak enak kepada kakaknya yang merupakan seniorku, bukuku kupinjamkan padanya. Namun setelah buku itu dikembalikan, terselip secarik kertas di halaman belakang. Kubuka dan kubaca, oh yaa ampun ...
"Dia menggombalku melalui puisinya, dengan gambar anime perempuan berjilbab lagi ...? hei, apa dia tak kenal siapa aku?" spontan aku membuang kertas itu.
"Ternyata di tempat seperti ini pun banyak lelaki tak karuan yah" ucapku mendesah
Tak berhenti sampai di situ, lelaki yang bercelana cingkrang itu menghubungiku ketika libur semester, entah darimana dia mendapatkan nomor teleponku
"Assalaamu'alaykum ... benar dengan Kirei?" suara seorang lelaki yang tak kukenal
tanpa menjawab salamnya, aku mengangkat bicara
"Iya, siapa?" ketusku
"Aku Yudi yang waktu itu minjam buku kamu, terima kasih yah bukunya"
"Ohh, itu ... iya lupakan saja. Sekarang apa tujuanmu menelponku?" tanyaku judes
"Aku hanya ingin berterima kasih, dan ohw iya ... aku ingin kau tersenyum saat telah kembali dari liburan nanti" Baru kenal tiba-tiba minta aku senyum? aneh 'kan yah?
"Untuk apa? kau tak berhak memintaku tersenyum, aku lebih nyaman jika tidak menebar senyumku pada penduduk penjara itu." Aku yang saat itu belum bisa mengikhlasakan keadaanku selalu dihantui oleh perkataan tak beradab, bahkan penampilanku saat liburan pertama kalinya masih sama saat aku belum belajar di pondok itu ; aku tidak mengenakan jilbab yang panjang kali lebar, meskipun jika di pondok aku terpaksa mengenakannya.
"Apa kau menyukaiku?" tanya lelaki itu yang membuatku geli dengan pertanyaan bodohnya.
"Kalau tidak kenapa? dan kalau iya kenapa? apa urusanmu?"
"Tidak apa-apa. Ohw yah, aku tunggu kamu kembali ke pondok, jangan lupa untuk tersenyum yah"
Huh, sejak hari itu ... dia selalu mengirimi aku surat berisikan perasaannya yang dipoles dalam sebuah puisi. Apa dia tidak tahu kalau aku masih memiliki hubungan dengan Wawan, kakak pembina pramuka aku kala SMP dulu? entah ... tapi dia selalu saja mendekatiku, hingga semua orang salah paham dan menyangka bahwa aku memiliki hubungan special dengannya. Isu kedekatanku dengan Yudi itu sampai ke telinga seorang teman kelasku. Tetiba dia menghampiriku saat belajar malam telah usai.
"Rei ... aku mau ngomong sesuatu" tegurnya seraya mengambil tempat untuk duduk di sampingku.
"Iya, kamu mau ngomong apa?"
"Rei, sebenanya aku berat buat ngomong ini, tapi aku ngk bisa terus memendam" suara cewe itu semakin melemah, seakan ingin menangis.
"Iya, Ra ... tidak apa, silakan!"
"Jujur aja, saat aku dengar gosip tentang hubungan kamu dan Yudi, aku nggak percaya Rei. Yudi masih pacar aku, kami masih sering berkomunikasi via telephone jika liburan, dan beberapa hari lalu aku masih sempat berkirim surat dengannya." Perkataan Rara membuatku seketika hilang kepercayaan pada Yudi.
Sembari memelukku, Rara bermohon kepadaku untuk menjauhi Yudi, laki-laki mata keranjang itu.
"Rei, aku masih sangat mencintai Yudi, aku berharap kamu bisa ngerti perasaan aku. Dia itu deketin kamu hanya ingin balas dendam Rei, dia hanya ingin merusak wanita lain, apalagi kamu ... dia punya mantan yang namanya mirip dengan namamu, dia hanya ingin mempermainkan dan merusakmu." Rara memelukku sembari air matanya mengalir membasahi pipi merahnya.
Setelah pertemuanku dan Rara malam itu, aku mulai menjauhi Yudi. Dan lagi-lagi aku merasa aneh dengan penjara suci itu,
"Oh yaa ampun, tempat ini kena kutukan apa sih? heran! tempat ini ada cinta-cintaannya juga yah ternyata" ...
Minggu, 29 Januari 2017
Kabut Asmara
Waktu terus menemaniku dalam melangkah,di usia 3 tahun seorang adik laki-laki yang gagah lagi putih keluar dari rahim ibu,saat itu aku tak sendiri lagi,aku memiliki teman bermain. Di usia 5 tahun,ibu melahirkan lagi seorang bayi perempuan imut yang kukata hampir kembar dengan adik laki-lakiku.
Di usiaku yang 5 tahun orangtuaku tidak menyekolahkan aku di TK, tapi aku langsung mengikuti pembelajaran di SD. Padahal saat itu seharusnya usiaku belum cukup untuk duduk di bangku SD.
Aku akui, Allah telah memberi karunia-Nya kepadaku berupa otak yang mudah menyerap pelajaran. Sejak duduk di bangku kelas 1 SD hingga di bangku kelas 6, nilai raportku selalu bagus dengan peringkat pertama. Yah, itu adalah hal yang wajar, sebab ayah sangat menggemblengku dalam belajar.
Jika nilai tugasku tidak baik, maka mistar kayu yang panjang milik ayah akan menimpali tanganku.
Masa-masa kecilku amat kurindukan saat ini, kala ayah sangat peduli dan memanjakanku. Namun, di sisi lain aku adalah seorang anak perempuan yang sering mendapatkan pukulan dari ayah dan cubitan pedis dari ibu.
Masih teringat ketika aku diperintahkan ayah untuk berangkat mengaji, tapi lagi-lagi aku tak sampai ke tempat ngaji. Aku memilih singgah bermain dengan teman-teman sebayaku, ketika ayah mengetahui kelakuanku dari laporan guru ngajiku, ayah tidak segan-segan mengambil kayu pagar lalu memukuliku hingga kayu itu berserakan karena patah. Kala itu aku yang salah. Aku akui itu.
Namun, pernah suatu ketika ayah kembali memukulku untuk kesekian kalinya, kali ini dengan sapu ijuk, dan penyebabnya karena adik perempuanku hampir tertabrak kendaraan roda dua saat hendak menyeberang. Lalu, mengapa harus aku yang ditimpali? tanyaku dalam hati. Ternyata ayah mengira bahwa aku tidak menjaga adikku dengan baik. Padahal kala itu, aku tidak sedang bersamanya.
Aku dilahirkan dengan warna kulit yang cukup putih, bak orang bule kata orang-orang di sekitarku. Allah juga memberikanku tampang yang kata orang-orang cantik, bahkan beberapa di antara mereka mengatakan aku seperti cewek Korea. Hehe, makin PD aja. Rambutku pun berwarna merah kecokelatan. Yah, seperti itulah penilaian orang-orang mengenai bentuk fisikku.
Jadi, sejak Sekolah Dasar banyak anak-anak cowok yang mendekat. Pengalaman pertamaku mendengar seseorang mengungkapkan perasaannya di hadapanku adalah ketika aku duduk di bangku kelas 4 SD. Jujur, saat itu aku masih sangat asing dengan dunia cinta apalagi pacaran. Ah, aku tak tahu semacam itu.
Jadi jelas saja aku menolaknya. Setelah kejadian itu, ternyata masih banyak lagi cowo-cowo yang nggak tahu diri yang mengungkap perasaannya. Sudah tahu aku tidak mau berpacaran, masih saja memberanikan diri untuk mengungkap rasa.
Oh, abaikan dulu masalah cinta. Aku ingin bercerita seputar kepribadian. Yah, aku termasuk cewek yang sangat takut pada seorang ayah. Mungkin karena ayah mendidikku dengan begitu kerasnya. Aku bahkan tidak dibiarkan bermain di luar rumah bersama teman-temanku. Ini masa ketika aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun, bimbingan ayah sangat menunjang prestasiku kala itu. Saat kelas 6 SD, ayah adalah guru matematika di kelasku, sehingga waktuku untuk belajar mata pelajaran ini sangatlah efisien. Jika pagi ayah mengajarku di sekolah, siang ayah pun mengajari saat pengayaan, jika malam tiba ayah kembali memintaku untuk memecahkan soal-soal yang diberinya. Oh, yaa Tuhan ...
Namun, hasil dari didikan tersebut sangat aku rasakan saat UAN tiba. Semua soal terasa sangat mudah kukerjakan. Dan alhasil, nilai UAN untuk mata pelajaran matematikaku adalah 9.9 alhamdulillah, syukurku atas semua karunia-Nya.
Kisahku masih berlanjut, kawan. Setelah lulus dari Sekolah Dasar, orang tuaku mendaftarkanku di sebuah SMP favorite di kampungku kala itu. Layaknya calon siswa baru di sekolah-sekolah yang lain, aku juga harus mengikuti proses orientasi. Huh, hal inilah yang aku tidak suka. Selama masa orientasi, aku tidak pernah senyum kepada para pembina yang menurutku mereka sok berkuasa. Ah, sudahlah ... itu hanya pemikiran anak labil kala itu.
Hari pertama aku mengenakan seragam putih-biru bukan main senangnya aku. Serasa lebih dewasa setingkat, hehe.
"Nama kamu Kirei, 'kan?" tanya seorang lelaki yang tetiba menghampiriku di kelas. Wajahnya tak asing, yah ... dia adalah senior yang sempat menjadi panitia orientasi kemarin.
"Iya, ada apa?" ketusku.
"Kamu mau jadi pacar aku?" brakk!! Pertanyaan itu lagi. Tak ada angin, tak ada hujan ... tanya nama kemudian nembak? nih orang mau jadiin aku bahan eksperimen kali yah.
"What? nggak salah ngomong tuh? nama kamu aja aku belum tahu. Tiba-tiba kamu nembak? Wah, cowok memang gitu, sukanya buat eksperimen. Tidak! Aku tidak mau" Jawabku berlalu meninggalkannya.
Hari terus berlanjut, dan lelaki menyebalkan itu masih selalu menghampiriku dan lagi-lagi mengungkapkan perasaannya. Tidakkah dia jenuh? Hingga pernah suatu hari, dia meyertakan seorang sahabatnya untuk menghampiriku di kelas.
"Sudahlah, aku katakan sejak pertama aku tidak mau. Jangan memaksaku, pergi atau kamu akan menjadi orang yang sangat aku benci" amarahku meledak di hadapannya, sedang sahabatnya yang berdiri di sampingnya membuka mulut, "Ok, tenanglah Jendz! Cinta ditolak, dukun bertindak"
Huuft, semakin membuatku kesal, perkataannya membuatku ingin tertawa.
Hingga tiba pada suatu hari, tepatnya hari Sabtu ... aku berjalan sendiri dari arah kantin. Sedang lelaki yang bernama Jendz itu alih-alih seperti bayanganku yang selalu mengikuti.
"Rei, tunggu!" Dia meraih pergelangan tanganku dengan kuatnya
"Tatap mataku, kumohon!" Entah mengapa, mataku refleks tertuju menatapnya, sedang tangannya tidak melepaskan pergelangan tanganku.
"Untuk yang kesekian kalinya, aku ingin meminta jawaban darimu. Maukah kamu menerima cintaku? Aku tidak sedang ingin bermain. Sungguh! Sejak pertama melihatmu saat orientasi dulu, aku tertarik padamu. Padahal sebelumnya aku belum pernah mengungkapkan perasaanku pada cewe mana pun. Melihatmu seperti ada kesejukan, aku tidak tahu mengapa harus wajahmu yang selalu hadir, aku yakin bahwa ini adalah cinta", dengan tatapan yang tak tergeser sedikit pun, aku tak sadar apa yang aku katakan waktu itu. Aku menerimanya? Oh, ini sungguh memalukan. Padahal aku telah memberi kesaksian di hadapan teman-temanku bahwa aku tidak akan menerimanya.
Untuk yang pertama kalinya, aku memiliki hubungan berstatus pacaran. Ini sungguh teka-teki bagiku. Mengapa aku tiba-tiba luluh?
***
Setelah berlalu 3 bulan hubunganku dengannya, ibu melahirkan seorang bayi laki-laki, tepatnya adikku yang ketiga. Namun, selepas itu ... ibu dan ayah disibukkan dengan pekerjaan mereka. Terlebih ibu yang barusaja terangkat menjadi seorang PNS. Mereka jarang di rumah, belajarku pun tidak diperhatikan lagi oleh ayah. Aku yang barusaja menginjak masa puberku bergaul dengan leluasa. Tak jarang aku menghabiskan waktu dengan teman-temanku, cowok maupun cewek. Asap rokok adalah pemandangan yang setiap harinya kunikmati bersama mereka. Tapi, aku tidak merokok yah. Hanya saja sebagian besar temanku yang tidak segan lagi menghisap rokoknya di hadapanku. Sabu-sabu sejenis distro bukanlah hal yang asing lagi bagiku, begitu pula dengan miras, jika teman-teman cowok barusaja berpesta miras, terkadang kami kumpul bersama hanya untuk memetik gitar dan menghabiskan waktu dengan tertawa. Atau sekedar balapan di jalan untuk menghilangkan penat. Pernah suatu ketika, kami sedang berkumpul seperti biasanya, memetik gitar sambil bernyanyi dengan lagu "Kehilangan" ciptaan Firman. Tetiba seorang teman cowok datang dengan menggenggam kondom, saat itu kali pertama aku tahu, bahwa mereka juga melakukan jual-beli kondom yang sumbernya mereka ambil dari ibu temanku yang seorang bidan.
