Selasa, 14 Februari 2017

Je t'aime

   Alunan indah itu ... kembali terekam di telingaku, saat badan telah kubentang di atas pembaringan. Selaksa rindu menyapa di keheningan malam. Mungkinkah karena hati sudah tak sanggup ingin memburainya?

Aku terpikat oleh segala sisi yang ada pada dirimu. Pemilik hatiku mengantarkanku agar belabuh di pelabuhan milikmu. Tetiba bibirku mengukir senyum, ah ... aku sedang berangan akan hadirmu seperti hari-hari yang lalu. Kenangan itu menghantuiku, masihkah terlintas di pikirmu tentang kita?
.
Saat jemarimu menggenggamku erat, seolah kau tak ingin aku pergi. Masihkah teringat olehmu? Saat tanganmu menyuapiku dengan lembutnya? atau saat kau letakkan kepalaku di atas dadamu sembari jemarimu mengelus rambut panjangku hingga aku tertidur pulas di sisimu?
Aku sangat merindu segala tentangmu ... Kita bersama mengukir cinta di atas lembaran-lembaran hari. Lautan lepas memisahkan raga kau dan aku, namun hati terasa jauh lebih dekat ketika rindu menikam. Entah harus tersenyum, atau menangis, sebab rindu sebagai pertanda masih adanya cinta. Namun, rindu itu juga amat pedih kala menyapa. 

::

"Je t'aime ..." Aku berucap dalam kesendirian pada ruang remang sembari mengeja tiap kenangan denganmu. Menatap thuts-thuts putih di hadapan mataku, seakan menatapmu dengan begitu dekat. Bahkan langit-langit kamar pun tahu, tentang resahku yang selalu mendamba pertemuan dengan rindunya yang jauh di sana. Kalender dalam kamar ini tak mau melirikku, sebab aku selalu saja mencoret coretnya dengan tinta merah. Aku lelah, menatap tanggal yang kemudian selalu kucoret karena penantianku tak kunjung berakhir. Apakah kau bisa mendengar rerintihan kalbuku? 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar