Jumat, 24 Februari 2017

Mendung

Setelah mendengar cerita Rara, mindsetku seketika berubah, aku tak lagi berniat untuk mengenal Yudi lebih jauh. Ketika kecewaku pada Yudi membumbung, tetiba seseorang datang dengan penuh perhatian padaku, saat itu aku dan Wawan juga tak lagi ada komunikasi, semenjak Wawan kembali ke Malaysia kami memang tak l7agi saling menyapa. Ya, seperti itulah aku, sangat mudah dikuasai oleh rasa jemu.
Kehadiran seorang seniorku bernama Rudi membuatku sedikit lebih betah di penjara suci itu.

Rudi memiliki pribadi yang lembut dan sangat perhatian, selain itu dia juga cerdas dan manis, terlebih ketika doa tersenyum, gigi gingsulnya membuatnya lebih tampan. Hm, mendeskripsikannya hanya membuatku tersenyum sendiri, sebab jika mengingat tatapan matanya rasanya aku selalu ingin tersipu. Kami sangat akrab, mungkin karena kami memiliki hobby yang sama, Rudi juga sangat suka membaca sama sepertiku. Tak jarang kami saling sharing mengenai buku-buku yang pernah kami baca. 

Entah ada angin apa, aku merasa nyaman dengannya. Padahal sebelumnya, aku juga pernah mendaptkan perhatian penuh dari seorang Jendz. Mungkin, ini yang namanya cinta?

"Rei ...,!" sapa Rudi dengan lembutnya 

"Iya, Kak. Ada apa?"

"Rei ... Uhibbuki" Dia mengucapkan kata itu? Bahwa dia mencintaiku? Aku benar-benar bingung harus menjawab apa.

"Hehe, lebay banget sih Kak, pake bahasa Arab segala." 

 Hubungan kami semakin hari semakin akrab, namun waktu kini menyambut, telah saatnya Rudi melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Mengingatkan aku dengan hubunganku dengan Jendz yang berpisah karena jarak, bedanya dengan Rudi aku ingin menjalin hubungan yang serius. 

**

Rudi melanjutkan kuliah di Sukabumi, sebelum berangkat, Rudi sempat berkunjung ke rumah dan memberiku sebuah bingkisan yang sangat indah. 

"Rei, jaga diri yah! Aku janji akan kembali suatu saat dan segera melamarmu. Tunggu aku kembali Rei." Ucap Rudi padaku pada hari terakhir kami bersua.

Langit seketika mendung, kurasa hujan jatuh dari sudut mataku. Entah, mengapa baru kali ini aku merasakan hal demikian, padahal telah banyak lelaki yang kukenal sebelum Rudi. 

Terliahat Rudi mengukir senyum padaku,  senyum yang sangat indah, sembari berjalan mundur dari hadapanku.

** Sudah setahun Rudi meninggalkan aku, dan berjuang meraih impiannya di kampung orang. Rudi tak pernah mengabariku, karena di asrama tempat dia tinggal tidak membolehkan mahasiswanya menggunakan ponsel. Rindu ...? Iya, aku sangat rindu pada suaranya yang lembut, dan tentu juga pada perhatiannya.  Aku lebih sering menyepi setelah Rudi tak ada, namun entah mengapa Yudi selalu mencoba mendekatiku kembali, apalagi sete.ah pemilihan jurusan, aku dan Yudi sekelas di sscience programe.

"Rei, kamu kenapa dingin banget sama aku?" tanya Yudi pada suatu hari, ketika jam pembelajaran telah usai. 

Tanpa menjawab pertanyaan Yudi, aku berlalu hendak keluar dari ruang kelas yang hanya ada aku, Yudi dan seorang temannya. 

"Rei ... Kamu habis nangis yah? Kamu masih mikirin Rudi yang udah jauh di sana?" 

"Aku nggak apa-apa!" 

"Sekarang aku mau ngajuin pilihan ke kamu, Rei. Kamu pilih aku atau dia?" Tetiba aku dikagetkan dengan pertanyaan Yudi.

"Aku pilih dia, aku pilih Rudi, Yud. Berhenti menghalangi langkahku, aku mau pulang sekarang ...!"  Dinding-dinding dalam ruangan itu seakan bergoyang, lantai tempatku berpijak terasa bergetar, sama seperti perasaanku yang sedang kacau kala itu.

Yudi terus berusaha mendekatiku, dan mengumbar kepada teman-temannya bahwa aku adalah kekasihnya. Tak kusangka, gosip itu menyebar amat luas dan mengalir begitu cepat sampai ke telinga Rudi, aku tak tahu siapa yang telah menyampaikan semua itu pada Rudi.

Hati masih setia dalam penantian, berharap yang dirindu segera hadir ... Rasanya telah lama tak lagi bersua, sudah 4 tahun berlalu senyum itu tak lagi nampak di mataku. Rudi hanya mengabariku sekali dalam setahun, maka tak heran jika gelisah semakin menerkam.

Selama kepergian Rudi, ada tiga pinangan yang tak kuterima, alasan yang amat tajam bagiku adalah tak lain karena aku masih menunggu Rudi. Masih terbayang janji-janji manis yang terucap dari bibir tipisnya, sehingga berat rasanya untuk menerima lamaran orang lain. Tak jarang aku menuliskan tentang Rudi, dia selalu menjadi objek puisi maupun prosa yang kutuliskan di lembaran-lembaran diary.   Sejujurnya, aku sering mendapati tulisan-tulisan Rudi di wall facebook miliknya yang bercerita tentangku, apa aku yang begitu kepedean ...? Ah, mana mungkin sebab tagar penjelas di sudut bawah tulisan Rudi mengarah padaku. Tak jarang kudapati tanda bertuliskan SHMILY setiap kali dia mengepost. Ya, tanda itu sering Rudi ucapkan padaku beberapa tahun lalu, "See How Much I Love You" demikianlah Rudi bertutur. 

Tapi, mengapa dia tak pernah menyapaku? Marahkah dia? Atau aku tak lagi ada di hatinya ...? Bahkan aku tak tahu menahu mengenai keberadaannya. 

Perasaan terasa tersiksa, aku tak lagi mampu menahan gejolak rasa yang hadir, kuberanikan diri menghubungi sebuah nomor yang tercantum di fecebook miliknya. 

"Assalaamu'alaykum ..." 

"Wa'alaykumsalam, dengan siapa yah?" Terkejut aku mendengar suara seorang wanita yang menjawab teleponku, mungkin aku keliru memencet tombol, pikirku.

"Maaf Mba, mungkin saya salah nomor. Kirain ini nomor Kak Rudi." 

"Loh, nggak salah kok Mba. Ini memang nomor handpone suami saya, kami tukaran handphone dulu beberapa hari ini Mba. Memang nama Mba siapa? dan ada perlu apa? siapa tahu saya bisa bantu."  Seketika pandanganku suram, mataku tak mampu diajak berkompromi,namun aku tetap berusaha menutupi kesedihan agar wanita yang mengaku istri Rudi itu tak tahu tentangku. 

Rasanya tak percaya dengan semua ini, janji-janjinya yang dulu hanya untaian kata palsu yang sempat dia tuturkan padaku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar