***
Sungguh, kehendak ibu tak kuasa kusanggah. Segala keinginan ibu harus menjadi keinginanku secara paksa. Setamat SMP, ayah telah berencana untuk menyekolahkanku di sebuah Sekolah Menengah Atas yang berstandar internasional atau biasa disebut International High School.
Namun, ibu lagi-lagi tak sependapat, aku malah disekolahkan di sebuah pesantren yang terletak kurang lebih 8 kilometer dari jalan raya. Kali pertama aku menginjakkan kaki di kampung itu, aku kaget bukan main, ibu membawaku sekolah di hutan. Tidak sampai di situ, setelah membuka pintu mobil, aku dikagetkan lagi dengan cowo-cowo yang celananya pada tergantung, "Nih tempat habis kebanjiran apa?" pikirku.
Ternyata cewe-cewe di tempat itu tidak kalah seramnya, kawan. Jilbab mereka berwarna hitam, panjang x lebar. "Semua pakai kaos kaki lagi, macam mau ke sekolah saja sore-sore begini,"
~~
Aku merasa risih, bagaimana tidak, sedang hanya aku yang berjeans ketat, baju kaos ketat dan sehelai kerudung persegi tipis yang kuletakkan begitu saja di atas kepala.
"Ibu benar-benar ingin memenjarakanku di tempat seperti ini.
Ah, aku harus apa lagi? Di penjara ini tak ada listrik, hanya ada genset yang dinyalakan dengan durasi waktu terbatas, nyalanya pun sangat payah, hanya membuatku semakin mengantuk."
Sungguh, kesabaranku benar-benar diuji. Aku tak biasa dengan kehidupan seperti itu, ditambah dengan begitu banyak aturan yang menekanku.
"What ...? hp juga tidak boleh?" aku tersentak ketika peraturan pondok itu mulai dibacakan oleh seorang senior.
Hari-hari kulalaui tanpa sebilas senyum di bibir, banyak yang membenciku sebab aku tak pernah membalas senyum orang lain jika mereka tersenyum padaku, sikapku sangat dingin terhadap mereka. Bagaimana tidak, rasanya aku belum siap menerima keputusan ibu yang menempatkanku di tempat seperti itu. Bahkan, aku adalah cewek yang dijuluki judes oleh teman-teman di pondok, ini pengakuan mereka yang tak jarang mampir di telingaku.
**
Pengalaman pertama aku belajar di sekolah itu, dan untuk pertama kalinya aku mengenal bahasa Arab. Jujur, air mataku seketika terjatuh saat proses belajar mengajar berlangsung, aku mengutuk keadaan hingga aku tidak berniat lagi mendengar penjelasan Pak Ustadz yang tak bisa kuserap sedikit pun, aku benar-benar kaku dalam bahasa Arab, hingga di awal semester buku tugas bahasa Arabku penuh coretan tinta merah, tentu karena jawabanku hanya segilintir yang benar.
Sekitar 3 bulan aku menjalani hidup di jeruji itu ...
Suatu senja saat aku sedang berada di perpustakaan sekolah, dari arah jendela melintas seorang lelaki yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku hanya merasa aneh, sebab matanya menatapku lama. Ah, apa peduliku.
Hari-hari berlanjut, lelaki aneh itu kini lebih sering menampakkan diri di hadapanku, entah sengaja atau apalah namanya.
"Yudi ..." teriak seorang santriwati dari serambi mesjid.
Kala itu aku sedang menjalani hukuman ; mencabut rumput di halaman mesjid karena aku melanggar tidak shalat berjamaah di mesjid, sempat kuarahkan mataku kepada sosok yang namanya dipanggil tadi.
"Ohh, dia. Itu toh namanya" ucapku seraya mencibirkan bibir. Lelaki tu yang kutemui beberapa hari lalu di perpustakaan.
Alih-alih ternyata dia adik dari seorang santriwati seniorku, dan cucu dari pendiri yayasan pesantren itu. Huh, aku tak pernah mencari tahu tentangnya, hanya saja berita datang sendiri menghampiriku melalui para santriwati yang sering menceritakan lelaki itu, hufft.
Entah ada angin apa, tetiba laki-laki itu ingin meminjam buku mata pelajaran fisika milikku melalui kakak perempuannya, karena merasa tidak enak kepada kakaknya yang merupakan seniorku, bukuku kupinjamkan padanya. Namun setelah buku itu dikembalikan, terselip secarik kertas di halaman belakang. Kubuka dan kubaca, oh yaa ampun ...
"Dia menggombalku melalui puisinya, dengan gambar anime perempuan berjilbab lagi ...? hei, apa dia tak kenal siapa aku?" spontan aku membuang kertas itu.
"Ternyata di tempat seperti ini pun banyak lelaki tak karuan yah" ucapku mendesah
Tak berhenti sampai di situ, lelaki yang bercelana cingkrang itu menghubungiku ketika libur semester, entah darimana dia mendapatkan nomor teleponku
"Assalaamu'alaykum ... benar dengan Kirei?" suara seorang lelaki yang tak kukenal
tanpa menjawab salamnya, aku mengangkat bicara
"Iya, siapa?" ketusku
"Aku Yudi yang waktu itu minjam buku kamu, terima kasih yah bukunya"
"Ohh, itu ... iya lupakan saja. Sekarang apa tujuanmu menelponku?" tanyaku judes
"Aku hanya ingin berterima kasih, dan ohw iya ... aku ingin kau tersenyum saat telah kembali dari liburan nanti" Baru kenal tiba-tiba minta aku senyum? aneh 'kan yah?
"Untuk apa? kau tak berhak memintaku tersenyum, aku lebih nyaman jika tidak menebar senyumku pada penduduk penjara itu." Aku yang saat itu belum bisa mengikhlasakan keadaanku selalu dihantui oleh perkataan tak beradab, bahkan penampilanku saat liburan pertama kalinya masih sama saat aku belum belajar di pondok itu ; aku tidak mengenakan jilbab yang panjang kali lebar, meskipun jika di pondok aku terpaksa mengenakannya.
"Apa kau menyukaiku?" tanya lelaki itu yang membuatku geli dengan pertanyaan bodohnya.
"Kalau tidak kenapa? dan kalau iya kenapa? apa urusanmu?"
"Tidak apa-apa. Ohw yah, aku tunggu kamu kembali ke pondok, jangan lupa untuk tersenyum yah"
Huh, sejak hari itu ... dia selalu mengirimi aku surat berisikan perasaannya yang dipoles dalam sebuah puisi. Apa dia tidak tahu kalau aku masih memiliki hubungan dengan Wawan, kakak pembina pramuka aku kala SMP dulu? entah ... tapi dia selalu saja mendekatiku, hingga semua orang salah paham dan menyangka bahwa aku memiliki hubungan special dengannya. Isu kedekatanku dengan Yudi itu sampai ke telinga seorang teman kelasku. Tetiba dia menghampiriku saat belajar malam telah usai.
"Rei ... aku mau ngomong sesuatu" tegurnya seraya mengambil tempat untuk duduk di sampingku.
"Iya, kamu mau ngomong apa?"
"Rei, sebenanya aku berat buat ngomong ini, tapi aku ngk bisa terus memendam" suara cewe itu semakin melemah, seakan ingin menangis.
"Iya, Ra ... tidak apa, silakan!"
"Jujur aja, saat aku dengar gosip tentang hubungan kamu dan Yudi, aku nggak percaya Rei. Yudi masih pacar aku, kami masih sering berkomunikasi via telephone jika liburan, dan beberapa hari lalu aku masih sempat berkirim surat dengannya." Perkataan Rara membuatku seketika hilang kepercayaan pada Yudi.
Sembari memelukku, Rara bermohon kepadaku untuk menjauhi Yudi, laki-laki mata keranjang itu.
"Rei, aku masih sangat mencintai Yudi, aku berharap kamu bisa ngerti perasaan aku. Dia itu deketin kamu hanya ingin balas dendam Rei, dia hanya ingin merusak wanita lain, apalagi kamu ... dia punya mantan yang namanya mirip dengan namamu, dia hanya ingin mempermainkan dan merusakmu." Rara memelukku sembari air matanya mengalir membasahi pipi merahnya.
Setelah pertemuanku dan Rara malam itu, aku mulai menjauhi Yudi. Dan lagi-lagi aku merasa aneh dengan penjara suci itu,
"Oh yaa ampun, tempat ini kena kutukan apa sih? heran! tempat ini ada cinta-cintaannya juga yah ternyata" ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar