Untukmu ...
Wahai makhluk Allah yang tak sempurna, ya ...
Sejatinya kita tak akan pernah sempurna, Kawan. Hanya berusaha untuk mendekat pada Sang Maha Sempurna
Aku tak menampik keindahan akhlak dan agamamu, jiwamu dibalut pakaian takwa oleh Ilahi. Itu yang membuatmu lebih dari yang lain.
Dirimu yang telah tersentuh oleh hidayah serta manisnya iman, tentu akan jauh berbeda dari mereka yang hidup dan tumbuh dalam keadaan awam.
Jika kau tanya pada mereka, tentu tak ada yang mengelakkan surga-Nya dan ingin dicintai oleh Rabb semesta alam.
Tapi jangan gegabah, Kawan ...
Jangan sampai dirimu merasa jauh lebih baik dari saudaramu, sehingga merendahkan mereka dan berbangga pada dirimu sendiri. Jangan, kumohon!
Jika pun ada di antara mereka yang telah berhijrah namun masih berlaku salah, cukuplah nasehat dan doamu yang memanjat tinggi ke langit yang dia butuhkan. Bukan cemoohan dan hinaanmu, Kawan.
Apa kau pernah merasakan terjatuh ke dalam selokan lalu tak satupun tangan yang merangkul, melainkan hanya mengejek seraya menertawakanmu?
Kita tak tahu apa rencana Allah untuknya dan juga untukmu. Aku terenyuh, bersyukur melihat insan yang menegakkan sunnah dan menjaga syariat, namun aku jauh lebih bersyukur jika nikmat iman itu tak dijadikan alasan untuk saling menjudge. Aku bukanlah makhluk yang memiliki hati seputih salju, ataupun sebening air gunung. Aku hanyalah seorang hamba yang hatinya seperti rubik, dibolak-balik oleh Pemiliknya sekurang-kurangnya 7x dalam sedetik. Maka, apa yang pantas disombongkan?
Betapa beruntung orang-orang yang tak pernah mengenal dunia kelam kehidupan bebas sebelumnya. Betapa beruntung mereka yang dilahirkan dan tumbuh di lingkungan religius. Betapa beruntung mereka yang sempat merasakan manisnya iman sebelum ajal menjadi tamu penutup dalam hidupnya.
Cukup! وما تدري نفس ماذا تكذب غدا
#AUW
Tidak ada komentar:
Posting Komentar